Pagelaran drama "Si Manis Jembatan Ancol", di gedung pertunjukkan Miss TjiTjih, Jakarta. (TEMPO/JACKY RACHMANSYAH).
Topik
Ada ''Kuntilanak'' di TIM
TEMPO.CO, Jakarta - Malam ini, Kamis, 29 Desember 2011, kuntilanak akan gentayangan di Taman Ismail Marzuki. Tapi, bukannya takut, orang-orang mungkin akan berduyun-duyun datang untuk menyaksikan hantu perempuan menyeramkan itu.
Tentu saja ini bukan kuntilanak sesungguhnya, meski sangat mirip. Kuntilanak satu ini khusus ditampilkan untuk pementasan sandiwara sunda Kuntilanak Waru Doyong oleh kelompok Sandiwara Miss Tjitjih.
Cerita ini mengisahkan tentang tragedi antara istri tua dan istri muda yang memperebutkan perhatian suami mereka. Kisah berlanjut sampai ke anak kedua istri yang lagi-lagi terjerat cinta segitiga. Sampai salah satu dari mereka meninggal dan arwahnya mendiami pohon waru di kampung sehingga menimbulkan kejadian-kejadian angker.
Di bawah tangan Imas Darsih selaku sutradara, kelompok yang lahir sejak tahun 1928 ini konsisten membawakan lakon bermuatan kisah berlatar belakang Sunda. Kisah kali ini juga akan menggunakan bahasa Sunda dicampur Melayu rendah dan Indonesia.
"Bahasa Sunda tetap menjadi ciri khusus yang diusung oleh grup pementasan Miss Tjitjih selain efek kejutan berupa aksi hantu terbang saat pementasan," kata Imas saat ditemui di Teater Kecil TIM Jakarta malam ini.
Kelompok yang sempat vakum pada tahun 1997 dan aktif pentas lagi pada 2004 ini berjuang keras agar tetap eksis di era modern. Meski minim dana, Imas menuturkan, grup ini tetap rutin melakukan pementasan di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Cempaka Putih, Jakarta. Lakon yang ditampilkan pun masih mengusung cerita lokal Sunda bergenre horor yang menjadi ciri khasnya.
Pementasan Kuntilanak Waru Doyong yang dibantu oleh Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta ini akan kembali menggelar pementasan sore nanti di Teater Kecil TIM. Pementasan pertama pukul 16.00 dikhususkan untuk pegiat teater dan mahasiswa dan pementasan berikutnya terbuka untuk umum dimulai pukul 20.00.
RIRIN AGUSTIA





