foto

Kurva di papan indeks DAX di Bursa Saham Frankfurt, Jerman (29/12). REUTERS/Remote/Kirill Iordansky

Tahun Ini, IHSG Potensial Terkoreksi

TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG), pada penutupan perdagangan pada akhir 2011 lalu, berada pada level 3.821,99 poin. Posisi indeks ini naik 3,19 persen dibandingkan penutupan perdagangan 2010, yaitu di level 3.703,51.

Untuk tahun ini, banyak analis memperkirakan IHSG berpeluang menyentuh level 4.000 setelah target itu tidak tercapai pada tahun lalu. Sementara analis dari Valbury Asia Securities, Nico Omer Jonckheere, melihat indeks saham gabungan akan terkoreksi sangat dalam hingga ke level 2.500.

Dia memandang indeks saham akan masih dipengaruhi kondisi perekonomian global yang masih tidak menentu. "Tahun ini, volatilitas yang liar akan terjadi di bursa saham global," ujar Nico kepada Tempo, Ahad, 1 Januari 2012.

Perekonomian global mengalami volatilitas yang tinggi sejak Agustus lalu akibat krisis utang di negara-negara Eropa dan turunnya peringkat pemerintah Amerika Serikat karena telat menyampaikan plafon utang pemerintah kepada publik. Pada tahun ini, kondisi serupa akan menghantam perekonomian dunia. "Jadi kondisi pasar cenderung akan jauh lebih memburuk lebih dulu," katanya.

Lalu, jika perekonomian Indonesia diprediksi tumbuh tahun depan sehingga mempengaruhi laju indeks saham, Nico meminta agar para investor terus berhati-hati. "Karena fundamental sama sekali tidak ada artinya ketika terjadi sebuah kepanikan global," katanya.

Kini, dia menjelaskan, bursa saham Indonesia berada di kondisi bullish. Sedangkan bursa saham Amerika Serikat malah mengalami kondisi bearish. Harry Dent, penulis buku The Great Crash Ahead, mengatakan Dow Jones berpeluang jatuh ke 3.000 pada 2013. "Sementara target saya setidaknya di level 5.000," katanya.

Setelah berada di posisi tinggi indeks, menurut Nico, selanjutnya IHSG akan membentuk gelombang yang turun karena sifatnya korektif. Dia pun menargetkan koreksi yang wajar untuk IHSG berada di kisaran 2.275 dan 2.642. Berarti bursa saham Indonesia masih bisa tertekan 30-40 persen dari level saat ini. "Ini suatu koreksi yang wajar pada saat mengalami sebuah cyclical bear market," ujar dia.

Sebelumnya, analis dari Finan Corporindo Nusa, Edwin Sinaga, optimistis indeks saham pada 2012 akan naik ke level 4.400 hingga 4.500 poin. Optimisme ini didorong prediksi ekonomi Indonesia yang akan tumbuh di kisaran 6,3 persen. Selain itu, dengan peringkat investasi yang didapatkan Indonesia, juga akan menjadi pemicu datangnya investasi ke dalam negeri.

Pertumbuhan itu, menurutnya, dengan jaminan situasi ekonomi global akan membaik dibandingkan tahun ini. Ekonomi Indonesia akan sangat dipengaruhi kondisi luar negeri. Pada semester satu tahun ini pun, dia pesimistis kondisi akan membaik. Namun, pada semester selanjutnya, dia yakin kondisi itu akan berangsur-angsur membaik. "Saya berharap Eropa akan mencapai titik beloknya," katanya.

SUTJI DECILYA