Agus Martowardojo. TEMPO/Imam Sukamto
Topik
Serapan APBN 2011 Melonjak 26 Persen Dalam Sebulan
TEMPO.CO, Jakarta -Dalam dua bulan terakhir, serapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2011 meningkat sebanyak 26 persen. Hingga 30 November 2011 lalu, serapan APBN baru sekitar 71 persen atau sekitar Rp644,5 triliun. Tetapi pada pemaparan di kantor Presiden hari ini, Selasa, 3 Januari 2012, penyerapan APBN 2011 sudah mencapai 97,4 persen.
"Saya lupa nominalnya. Tetapi serapan keseluruhan kementerian, lembaga dan non-kementerian lembaga mencapai 97, 4 persen," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo, usai sidang paripurna kabinet di Kantor Presiden.
Lompatan penyerapan anggaran yang sangat besar, kata Agus, disebabkan terlambatnya penagihan dari kontraktor dan vendor. Selain pekerjaannya banyak yang diselesaikan kuartal keempat, juga banyak kontraktor yang menunggu di saat terakhir. "Yang terjadi adalah proyek sudah ada kemajuan jauh tetapi kontraktor dan vendornya baru menagih di bulan terakhir," dia menambahkan.
Melonjaknya penyerapan anggaran menjelang akhir tahun anggaran diakui Agus merupakan hal yang buruk. Apalagi, Presiden meminta ada peningkatan belanja barang dan belanja modal di tahun 2012. "Jadi perlu memperbaiki procurrement plan (rencana pengadaan) dan disbursement plan (rencana pembayaran)," kata dia.
Di kesempatan yang sama, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan saat angka pertumbuhan ekonomi hingga kuartal keempat masih dihitung. Tetapi, sampai kuartal ketiga pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5 persen. Hatta optimistis pertumbuhan ekonomi 2011 mencapai target 6,5 persen.
Capaian menggembirakan lain adalah tingkat inflasi 2011 yang terendah kedua setelah 2009. Di 2011, inflasi mencapai 3,79 persen atau lebih rendah dari target inflasi 5,65 persen. Padahal, inflasi rendah di tahun 2009 terjadinya gara-gara perlambatan ekonomi karena krisis 2008. "Artinya ini sesuatu yang luar biasa. Karena kita berada di tengah pertumbuhan ekonomi yang baik dan inflasi bisa ditekan jauh lebih rendah," kata dia,
Selain itu, Hatta mengimbuhkan, tingkat bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dari asumsi makro 5,6 persen ternyata realisasinya bisa menjadi 4,8 persen. Walau acuan Bank Indonesia sebesar 3 persen. "Berarti Menteri Keuangan bisa menghemat pembayaran bunga terhadap SPN," tutur dia.
Namun, yang jauh dari perkiraan adalah harga minyak yang meleset dari penetapan anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan sebesar US$ 95 menjadi US$ 111,5 per barel. Produksi minyak (lifting) juga meleset dari target 945 ribu barrel menjadi hanya 898 ribu barrel.
ARYANI KRISTANTI





