indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Misteri Bulan Bermuka Dua

Misteri Bulan Bermuka Dua

Gambar konsep dari GRAIL-B yang sedang mengitari orbit bulan dirilis oleh NASA (2/1). REUTERS/NASA/JPL-Caltech/Handout

TEMPO.CO, Washington D.C. - Wajah bulan tidak sepenuhnya indah seperti yang kita lihat. Bulan memiliki dua sisi: sisi dekat dan jauh. Sisi dekat, yang selalu kita lihat, didominasi permukaan rata. Sementara sisi jauh terdiri barisan pegunungan dengan rata-rata ketinggian 1.900 meter.

Film Transformers: Dark Side of The Moon (2011) menggambarkan sisi itu dengan hamparan pegunungan batu dan selalu diselimuti kegelapan karena tidak tersentuh cahaya matahari. Apa penyebab bulan bisa bermuka dua?

Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mencoba memecahkan misteri itu dengan mengirim dua pesawat tanpa awak, Grail-A dan Grail-B, tiga bulan lalu. Di hari pertama 2012, pesawat peneliti itu memasuki orbit bulan.


Menurut kepala penelitian, Maria Zuber, bulan terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu saat benda angkasa sebesar Mars menumbur Bumi. Besarnya benturan menghamburkan miliaran ton material ke angkasa, lalu menyatu membentuk bulan. Ini merupakan buah pikir lama dan belum menjawab mengapa dua sisi bulan bisa berbeda.


Hipotesis baru yang dia ajukan adalah benturan itu awalnya membentuk dua bulan. Bulan kedua, yang lebih kecil, kemudian menyatu dengan bulan pertama di sisi jauh. "Jawabannya ada di bagian dalam bulan," ujar Zuber, seperti dikutip Space.com kemarin

Pesawat kembar senilai Rp 4,5 triliun itu akan mengelilingi bulan untuk merekam gravitasi bulan secara detail dan membuktikan kesahihan skenario tersebut. Keduanya berputar sembari menurunkan ketinggiannya sampai menetap di ketinggian 55 kilometer di atas bulan, pada Maret. Lalu kembali menjelajah--dengan jarak satu sama lain antara 121 sampai 362 kilometer--selama 82 hari lagi.

Pencatatan gravitasi ini diharapkan mampu memasok informasi tentang komposisi bulan. "Sehingga bisa diketahui bagaimana awal pembentukan bulan dan perubahannya dari waktu ke waktu," ujar Zuber, peneliti dari Massachusetts Institute of Technology.

SPACE | REZA MAULANA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X