foto

Warga kelurahan Tubo, Ternate, Maluku Utara, keluar rumah mereka, setelah banjir lahar dingin Gunung Gamalama menerjang tempat tinggal mereka (5/12). Ifan Gusti untuk TEMPO

Pengungsi Gunung Gamalama Butuh Makanan Balita  

TEMPO.CO, Ternate - Pengungsi banjir lahar dingin Gunung Gamalama mulai kekurangan bahan makanan. Akibatnya sejumlah balita mulia terserang penyakit. “Bahan makanan hanya supermi dan bahan makanan jadi. Semuanya hanya untuk orang dewasa. Belum ada bantuan bahan makanan untuk bayi,” kata Yanti, 39 tahun, pengungsi di pos pengungsian SMK Negeri 2 Ternate, Rabu 4 Januari 2012.

Karena itu banyak pengungsi yang terpaksa memenuhi bahan makanan untuk bayi secara mandiri. Di pos pengungsian rata-rata dihuni oleh perempuan, anak anak, dan usia lanjut. Menurut Yanti, bantuan makanan pun harus menyediakan bahan makanan yang berbeda. "Bahan makanan yang disediakan harus ada untuk balita juga,” ujar Yanti.

Pengungsi menilai pemerintah juga lambat menyediakan pasokan obat-obatan. Akibatnya banyak pengungsi banjir lahar dingin Gunung Gamalama yang terpaksa menahan rasa sakit. “Kami butuh juga obat demam untuk orang dewasa dan obat diare untuk anak anak," kata Yanti.

Menurut Haji Ibrahim, tokoh masyarakat kelurahan Tobo, penanganan tanggap darurat bencana yang ditunjukkan pemerintah sesungguhnya masih jauh dari harapan masyarakat. "Cenderung asal-asalan. Buktinya kami banyak yang telantar,” katanya.

Karena itu Ibrahim berharap tanggap darurat bencana oleh pemerintah dilakukan dengan memperhatikan aspek ketepatan. “Jangan lagi ada penanganan bencana seperti penanganan asal jadi,” ujarnya.

Sebelumnya banjir lahar dingin menerjang lima kelurahan di Kota Ternate. Akibatnya ratusan rumah penduduk rusak berat. Bahkan ribuan orang terpaksa mengungsi di sepuluh titik pos pengungsian. Bencana lahar dingin juga menyebabkan tiga orang tewas dan tujuh orang luka luka. Hingga kini Gunung Gamalama masih berstatus Siaga level III.

BUDHY NURGIANTO