Martinus Joseph Murtidjono. dewankeseniansolo.com
Topik
Budayawan Solo Dimakamkan di Tawangmangu
TEMPO.CO, Surakarta - Sejumlah seniman dan masyarakat berkumpul di Pendapa Ageng Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta, Rabu pagi, 4 Januari 2012. Tidak ada pementasan di pagi itu. Mereka berkumpul untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Martinus Joseph Murtidjono, Ketua Dewan Kesenian Surakarta yang meninggal dunia lantaran penyakit leukemia.
Bagi masyarakat Surakarta, terutama kalangan seniman, Murtidjono bukanlah orang asing. Pria tersebut dianggap memiliki kontribusi yang sangat besar dalam mengembangkan kesenian dan kebudayaan. Hampir separuh umurnya dihabiskan untuk mengelola taman budaya dan memberi ruang bagi para seniman untuk terus berkarya. “Semua seniman merasa kehilangan,” kata Halim HD, salah seorang kawan karibnya.
Murtidjono dipercaya menjadi Kepala Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta sejak 1981, saat usianya masih cukup muda. Golongannya sebagai pegawai negeri pada saat itu belum begitu tinggi. Hanya, dia berhasil membuktikan kepiawaiannya dalam mengelola taman budaya yang sering digunakan pentas oleh para seminan kaliber nasional itu. Setelah mengabdi di taman budaya selama 26 tahun, dia akhirnya melepaskannya pada 2007 lalu lantaran pensiun.
Usai pensiun, pria yang banyak menggeluti seni rupa itu tidak tinggal diam. Dia terus mencurahkan tenaga dan pikirannya di Dewan Kesenian Surakarta. Bahkan Murtidjono enggan beristirahat meski sudah mulai sakit. Dia dipercaya sebagai ketua di perkumpulan tersebut hingga mengembuskan napas terakhirnya.
Murtidjono meninggal dunia di RS Sardjito Yogyakarta lantaran digerogoti penyakit leukemia, Selasa 3 Januari 2012. Dia mulai menjalani rawat inap di rumah sakit selama lebih dari sepekan. “Bapak mengalami masa kritis sekitar satu hari,” kata Oki Nandhi Wardhana, salah seorang anaknya.
Jenazah Murtidjono sempat disemayamkan di rumahnya yang berada di kawasan Jebres. Setelah itu jenazah dibawa ke Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta untuk disemayamkan. Setelah mendapatkan penghormatan terakhir dari masyarakat, jenazah dibawa ke sebuah pemakaman yang terletak di Kecamatan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar.
Sebenarnya tidak ada keluarga lain yang dimakamkan di tempat tersebut. Namun makam itu memang telah dipilih oleh Murtidjono sejak masih hidup. “Barangkali lantaran hawa di tempat itu sejuk,” kata Oki. Setiap pekan, Murtidjono sering mengajak keluarganya berwisata di Tawangmangu yang berada di lereng Gunung Lawu.
AHMAD RAFIQ





