foto

Lee Hsien Loong. AP/Wong Maye-E

Dipotong 36 Persen, Gaji PM Singapura Masih Rp 15 M Setahun

TEMPO.CO , SINGAPURA:-- Para pejabat Singapura dikenal memiliki gaji selangit. Namun Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Rabu lalu, berjanji menerima proposal pemotongan yang akan memangkas gaji dan bonus-bonus yang bergantung pada pencapaian target-target sosial ekonomi negeri itu.




Pemangkasan gaji ini direkomendasikan oleh sebuah komite yang dibentuk pemerintah dalam gelombang ketidakpuasan pemilihan umum tahun lalu, ketika gaji tinggi para menteri dikritik pihak oposisi.

"Ini sebuah isu kompleks dan secara politik peka bagi masa depan Singapura," demikian ditulis Perdana Menteri Lee dalam sebuah surat kepada komite pekan ini.

Pendapatan tahunan Lee akan terpotong 36 persen menjadi Sin$ 2,2 juta (Rp 15,5 miliar) per tahun. Adapun gaji baru para menteri akan berkisar Sin$ 1,1 juta (Rp 7,7 miliar) per tahun, turun dari tahun lalu Sin$ 1,58 juta (Rp 11 miliar) per tahun.

Perdana Menteri Lee, 59 tahun, memang tertekan setelah partainya, Partai Aksi Rakyat, hanya menang tipis pada pemilu Mei 2011. Pemerintahan Lee makin tertekan dengan sejumlah petaka, seperti terhentinya subway yang tak terduga, adanya banjir di segenap wilayah, dan naiknya ongkos taksi. Kini ditambah lagi masalah: tekanan terhadap pemotongan gaji.

"Kami masih menghadapi problem banjir dan transportasi," ujar seorang pensiunan, Joseph Teng, 62 tahun, kemarin. "Pemangkasan gaji para menteri adalah awal yang bagus dan kedengarannya pantas. Tapi, jika Anda lihat hasil akhirnya, mengapa masih tampak begitu banyak?"

Para menteri Singapura sudah dikenal bergaji terbesar di dunia. Pemerintah punya dalih mengapa gaji mereka selangit, bahkan lebih tinggi ketimbang gaji pejabat Amerika Serikat. Itu demi mencegah korupsi dan membantu mereka menggaet orang-orang pilihan. Kini pemerintah memutuskan melawan gaji-gaji super.

Keputusan itu ditanggapi dengan enteng oleh sebagian menteri. "Ketika saya memutuskan bergabung ke politik pada 2006, gaji bukanlah faktor kunci," tutur Grace Fu, menteri senior di Kementerian Informasi, Komunikasi, Budaya, Lingkungan Hidup, dan Sumber Daya Air, di Facebook-nya.

l San Francisco Chronicle | Financial Times | Dwi A