Pencarian korban longsor di Pantukan, Filipina. AP
Topik
Korban Tewas Longsor di Filipina Selatan 30 Orang
TEMPO.CO, Davao - Jumlah korban tewas akibat tanah longsor yang melanda satu kota pertambangan emas yang kaya di Filipina selatan belum lama ini meningkat menjadi 30 saat operasi pencarian dilanjutkan. Demikian pernyataan para pejabat, Minggu 8 Januari 2012.
Gubernur Provinsi Compostela Valley di Mindanao, Arthuro Uy, mengatakan sedikitnya 30 mayat telah ditemukan dan para penyelamat masih mencari 44 orang yang hilang setelah tanah longsor melanda Desa Napnapan, Kota Pantukan. "Kemarin (Sabtu), tiga mayat lagi telah ditemukan. Kami akan melanjutkan misi pencarian selama tiga hari," kata Uy.
Benito Ramos, kepala Dewan Bencana Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen (NDRRMC), mengatakan ia memperkirakan akan ada korban lebih banyak. "Saya tidak kehilangan harapan masih ada korban hidup," kata Ramos, yang mengunjungi kota itu. "Hanya empat dari korban adalah warga Pantukan. Sisanya berasal dari provinsi lain."
Menteri Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Jesse Robredo terbang di atas wilayah tersebut pada Jumat. Dalam pembicaraan dengan para pejabat lokal, ia memerintahkan untuk turun langsung melakukan operasi-operasi pertambangan di sana dan menggusur hampir 2.000 warga termasuk penambang dan keluarga mereka.
Tanah longsor itu terjadi pada sekitar pukul 03.00 Kamis. Karena sebagian besar masyarakat sedang tidur, banyak korban terjebak di dalam lapak mereka.
Sekitar 60 rumah hancur atau terkubur saat berton-ton tanah, batu, dan pohon tumbang mengalir di sisi desa pertambangan itu. Tanah longsor tersebut mengakibatkan peta kehancuran dengan panjang sekitar 300 meter dan lebar 60 meter.
WDA | ANT





