TEMPO/Novi Kartika
Hibah Hercules Australia Tunggu Persetujuan DPR
TEMPO.CO, Jakarta - Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Agus Suhartono menyatakan TNI Angkatan Udara akan mendapatkan hibah empat pesawat Hercules dari Pemerintah Australia. Menurut Agus, hibah sudah mendapat persetujuan pemerintah.
"Tinggal persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat," kata Agus usai menghadiri rapat terbatas di Kantor Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Senin 9 Januari 2012.
Selain itu menurut Agus pemerintah juga telah mengantongi izin dari Amerika sebagai negara pembuat empat pesawat Hercules itu. Setelah sampai di Indonesia, empat pesawat Hercules C-130 ini langsung akan diremajakan guna meningkatkan kemampuannya supaya layak terbang.
Saat ini perjanjian kerja sama antara kedua belah pihak telah disepakati dan diteken dalam pertemuan bilateral antara Indonesia-Australia saat East Asia Summit di Bali, November, tahun lalu.
Seri C-130H ini merupakan seri terbaru dibandingkan pesawat Hercules lainnya. Namun sebelum dibawa ke Indonesia, empat pesawat tersebut harus direnovasi terlebih dahulu di Australia.
Pekan lalu, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro menyebutkan untuk mendapatkan empat hercules hibah itu pemerintah telah menyiapkan dana kurang dari satu triliun.
Rencananya, secara resmi pesawat akan diserahkan setelah adanya anggaran untuk renovasi. "Anggaran itu kan sudah diketok untuk 2012, nanti akan kita persiapkan untuk APBN-Perubahan," ujar Purnomo.
Rencananya empat Hercules hibah ini akan digunakan untuk penanggulangan bencana. Hercules ini akan menambah jumlah pesawat TNI AU sejenis yang baru berjumlah 21. "Untuk pasukan ini merupakan transport bagus," lanjut Purnomo.
Mengenai penyerahan empat pesawat hibah ini, tim dari kedua negara akan bertemu untuk membahas kondisi pesawat dan teknis hibah. Hasil pembicaraan tim itu bisa digunakan untuk mengukur biaya retrofit dan kemampuan keempat pesawat itu setelah diremajakan.
Proyek hibah hercules ini sebenarnya sudah direncanakan dilaksanakan pada 2011, namun prosesnya terlambat sehingga baru direalisasikan pada 2012. "Tahun ini mudah-mudahan jadi," ujar Agus meyakinkan.
IRA GUSLINA





