REUTERS/Beawiharta
Topik
Waspada Pertumbuhan Terlalu Cepat dan Inflasi
TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom senior Deutsche Bank, Taimur Baig, memperingatkan pemerintah Indonesia untuk mewaspadai dua risiko besar di 2012, pertumbuhan yang terlalu cepat di sektor ekonomi (overheating) dan pergerakan inflasi. "Pemerintah perlu membuat kebijakan untuk mengontrol hal ini," ucap Taimur dalam Economic Outlook Deutche Bank 2012 di Hotel Mandarin, Senin, 9 Januari 2012.
Taimur mengingatkan, di tengah sentimen bisnis yang positif dan harapan pasar akan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, ada potensi overheating. Penyebabnya lonjakan permintaan impor dan pertumbuhan cepat di bisnis properti. "Pemerintah perlu bertindak untuk mengendalikan pasar," ujarnya. Jangan sampai terjadi distorsi dalam kebijakan makroekonomi dan penyaluran sumber daya yang tak tepat (disalokasi sumber daya).
Selain overheating, Taimur juga menyoroti inflasi. "Inflasi tak akan bertahan terus di level 4 persen, melainkan terus naik hingga ke 6 persen," ujarnya. Inflasi didorong oleh kenaikan harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik. Inflasi juga akan dipengaruhi kebijakan Bank Sentral yang masih akan mempertahankan suku bunga di level yang sangat rendah, 6 persen, paling tidak sepanjang semester pertama 2012. Hal tersebut dinilai akan mendorong pertumbuhan kredit yang tinggi utamanya dalam kredit konsumsi. Ia pribadi menilai, dengan inflasi di level 6 persen, ada baiknya suku bunga naik ke level 7 persen. "Suku bunga harus dijaga jangan terlalu rendah dan inflasi harus dijaga jangan terlalu tinggi," ujarnya.
Secara umum, Taimur memprediksi pertumbuhan ekonomi akan terus berlanjut meski mengalami perlemahan. Pertumbuhan ekonomi berada di level 6 persen atau turun 0,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Hal ini dampak dari penurunan ekspor. Namun sentimen pasar yang positif akan mendorong investasi dan konsumsi yang selanjutnya berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan. Rupiah diprediksi akan terjaga pada level Rp 9.000-Rp 9.100. "Bank Sentral akan mengintervensi agar nilai tukar rupiah tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi," ujarnya.
MARTHA THERTINA





