Sebuah layar berisi informasi saham terlihat terpasang di atas para investor di Wuhan, Hubei, Cina (4/1). REUTERS/Stringer
Topik
Foto Terkait
Pertumbuhan Perdagangan Cina Melambat
TEMPO.CO, Beijing -- Kinerja ekspor dan impor Cina tumbuh melambat dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini seiring surutnya permintaan domestik dan luar negeri. Data perdagangan Negeri Tirai Bambu itu dirilis pada Selasa, 10 Januari 2012, sesuai ekspektasi bahwa kebijakan Beijing bisa mendukung perekonomian negara itu.
Laporan menunjukkan pertumbuhan ekspor tahunan mencapai 20,3 persen menjadi US$ 1,89 triliun pada 2011. Padahal, tahun lalu, peningkatan ekspor mencapai 31,3 persen. Sementara, pada Desember, pertumbuhan ekspor hanya 13,4 persen. Namun terjadi perlambatan jika dibandingkan dengan kinerja pada November 2009 yang tumbuh 13,8 persen.
Kejutan datang karena ada pelemahan pertumbuhan impor yang hanya 24,9 persen menjadi US$ 1,74 triliun. Lebih lambat dari kinerja tahun lalu yang tumbuh mencapai 38,8 persen.
Kondisi ini menarik perhatian investor. Sebab, pada 26 bulan terakhir, pertumbuhan impor Desember hanya 11,8 persen, di bawah perkiraan para ekonom yang sebesar 17 persen. Pertumbuhan impor bulan lalu saja mencapai 22,1 persen.
"Kami pikir pelemahan impor akan sedikit mengejutkan dan secara umum implikasinya negatif. Penurunan permintaan domestik sangat cepat," kata Zhang Zhiwei, Kepala Ekonom Nomura Chin di Hong Kong, seperti dikutip Reuters.
Zhang mengatakan skala penurunan pada pertumbuhan impor tahunan disebabkan konsumsi domestik yang hanya 13,5 persen pada Desember. Lebih rendah dibandingkan konsumsi domestik pada November yang mencapai 27,4 persen.
Sementara impor karena adanya proses perdagangan mencapai 6,2 persen. Lebih rendah dari capaian November yang sebesar 11 persen. Ini kondisi yang krusial.
"Artinya, dalam beberapa bulan ke depan, ekspor akan turun dengan tingkat kepastian yang tinggi," kata dia. "Data perdagangan ini pada dasarnya sudah dikonfirmasi dengan pandangan kami pada kuartal pertama yang akan berlangsung sangat berat."
Data perdagangan Desember adalah kunci awal serial dari indikasi aktivitas Cina yang akan dipublikasikan dua pekan mendatang. Termasuk data produk domestik bruto dalam empat kuartal. Kondisi ini menunjukkan negara dengan perekonomian kedua terbesar di dunia itu mengalami kuartal terburuk dalam dua tahun terakhir.
Pasar finansial menggunakan data tersebut untuk penentuan langkah mereka. Harapannya agar jeda dari kebijakan moneter mengimbangi ketakutan pada pertumbuhan yang melambat.
Total impor dan ekspor Cina hingga akhir 2011 sebesar US$ 3,6 triliun. Namun surplus perdagangan menyusut hingga US$ 155 miliar, level terendah dalam tiga tahun. Pada 2010, surplus perdagangan mencapai US$ 183,1 miliar.
Penurunan surplus perdagangan membantu Cina untuk berargumen telah mereformasi kebijakan mata uang. Dengan begitu, melawan kritikus asing yang menuduh mereka menahan yuan pada tingkat rendah sehingga memberikan keunggulan kompetitif kepada eksportir secara tidak adil.
Pelemahan permintaan domestik mempersulit rencana Partai Komunis Cina untuk menyeimbangkan ekonomi agar lebih mengutamakan permintaan internal dan konsumer impor.
"Kekecewaan utama adalah dengan impor, yang menunjukkan angka yang rendah dibandingkan November dan jauh di bawah konsensus," kata Kevin Lai, ekonom Daiwa Capital Markets, di Hong Kong. "Artinya, dorongan impor pada November hanya sementara, perekonomian domestik melambat tajam. Cina akan meneruskan untuk mengambil jeda dalam kebijakan yang melindungi permintaan domestik."
REUTERS | ABC NEWS | BBC | EKA UTAMI APRILIA





