Seorang peserta demo membawa papan di luar toko Dolce & Gabbana di Hong Kong (8/1). REUTERS/Bobby Yip
Topik
Foto Terkait
Melarang Tokonya Dipotret, Dolce Gabbana Didemo
TEMPO.CO, Hong Kong - Ribuan warga Hong Kong melakukan aksi unjuk rasa di depan toko baju Dolce Gabbana (D&G), Minggu, 8 Januari 2012. Warga menuntut D&G minta maaf karena melarang seorang fotografer mengambil gambar toko mereka dari trotoar jalan.
Aksi unjuk rasa ini dimulai dari ajakan di Facebook setelah surat kabar setempat, Apple Daily, memberitakan warga Hong Kong dilarang mengambil gambar lewat jendela toko D&G, meski dari jalan umum. Apple Daily mengunggah video rekaman yang menampilkan penjaga keamanan toko memberi tahu wartawan mengenai larangan memotret dari trotoar.
Nah, Dolce Gabbana punya alasan melarang pengambilan gambar tokonya. Larangan memotret, meski dari jalan umum, bertujuan untuk melindungi hak intelektual atas produk-produk di toko. Tapi, anehnya, wisatawan asing dan asal Cina diperbolehkan memotret. Tentu saja warga Hong Kong berang.
Harian Hong Kong, The Standart, melaporkan ada pejabat Cina sedang berbelanja di D&G dan merasa terganggu dengan kegiatan pengambilan gambar. Pejabat ini pun komplain kepada pihak toko. Ia takut kalau terpotret, lantas fotonya beredar dan menimbulkan dugaan korupsi. Ketakutannya sebenarnya beralasan. Soalnya, tahun lalu, seorang pejabat kereta api Cina diberhentikan setelah membeli jam tangan mewah pascabencana kereta api Wenzhou.
Tapi ada pendapat berbeda soal munculnya unjuk rasa yang melibatkan ribuan orang ini. Tidak sekadar soal larangan motret, Chung Kim-Wah, pakar dari Pusat Studi Kebijakan Sosial Hong Kong Politechnic University, mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa kemarahan warga disebabkan faktor sejarah. Sejak 1997, Hong Kong mengalami banyak kemunduran dalam demokrasi dan kebebasan. Nah, ketika ada larangan, mereka pun protes dan memperjuangkan, "Hak di ruang publik," ujarnya.
Persoalan ini membuat Harbour City, pusat perbelanjaan toko Dolce & Dabbana berada, meminta maaf atas ketidaknyamanan melalui pernyataan di laman Facebook. "Kami belajar dari insiden tersebut dan mendengarkan pendapat dari orang-orang di sekitar," tulisnya.
Untuk meredam situasi, D&G pun mengeluarkan siaran pers pada Minggu malam, 8 Januari 2012. Perusahaan menggarisbawahi tidak turut serta dalam setiap tindakan. "Masyarakat Hong Kong berpikir kami yang mengeluarkan kebijakan," ujarnya.
ANANDA PUTRI | HUFFINGTONPOST.CO | JINGDAILY.COM





