Tanah Lot, Legenda Danghyang Nirartha | Travel | Tempo.co
TEMPO Travel
24 - 26 Mei 2012
Festival Musik Lintas Genre di Rumah Tembi
Festival digelar untuk pendokumentasian seri musik tradisi baru dalam bentuk album.

14 - 19 Mei 2012
Festival Teluk Jailolo 2012
Festival tahunan yang digelar di Teluk Jailolo Halmahera. Diisi mulai dari fun diving, parade rempah, hingga bakar ikan.

Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga

Tanah Lot, Legenda Danghyang Nirartha

Selasa, 10 Januari 2012 | 14:39 WIB

Tana Lot, Kabupaten Tabanan, Bali. TEMPO/ Gunawan Wicaksono

TEMPO.CO - Ratusan wisatawan membanjiri kawasan Pantai Tanah Lot. Puluhan bus pariwisata dan mobil pribadi yang membawa mereka berjejer di tempat parkir. Rata-rata wisatawan datang dari berbagai kota di Jawa, bahkan ada juga yang berasal dari Palembang.

Sore itu, air laut sedang pasang. Ombak berdebur membuat Tanah Lot terpisah dari tepian pantai di seberangnya. Penjaga keamanan pura pun berjaga mengawasi dan menjaga kemungkinan warga menyeberang untuk mendapatkan air tawar sebagai air suci di dalam semacam goa kecil di bawah pura pada karang raksasa tersebut.

Tanah Lot terletak di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, 13 kilometer dari Kota Denpasar atau 45 menit dari Pantai Kuta. Tanah Lot bukan hanya sebuah pura tempat bersembahyang umat Hindu. Seiring dengan majunya industri pariwisata di Bali, Tanah Lot menjadi salah satu titik objek pariwisata teramai di Pulau Dewata.

Sejumlah fasilitas penunjang pariwisata tersedia di sana. Mulai tempat parkir sampai  pasar seni yang menjual aneka produk kerajinan lokal, seperti kaos atau baju Bali, juga kedai minuman dan makanan. ‘’Kalau hari biasa pengunjung mencapai 5.000-an orang. Sedangkan musim liburan bisa 10.000 orang,’’ kata salah seorang penyedia jasa foto di sana. Untuk memasuki kawasan Tanah Lot dikenai tiket per orangnya Rp 7.500.

Di tempat ini terdapat dua pura yang dibangun di atas batu besar. Satu terletak di atas bongkahan batu dan satunya lagi di atas tebing.

Konon berdasarkan legenda, Tanah Lot  merupakan bagian dari Pura Dang Kahyangan. Pura Tanah Lot adalah pura laut untuk pemujaan dewa-dewa penjaga laut. Dari riwayatnya di dalam legenda, seorang brahmana yang mengembara dari tanah Jawa membangun pura ini. Ia adalah Danghyang Nirartha yang menebalkan keyakinan penduduk Bali terhadap Hindu membangun Sad Kahyangan tersebut pada abad ke-16.

Pada saat itu penguasa Tanah Lot, Bendesa Beraben, iri terhadap beliau karena para pengikutnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Danghyang Nirartha. Bendesa Beraben menyuruh Danghyang Nirartha untuk meninggalkan Tanah Lot. Ia menyanggupi permintaan itu.

Sebelum meninggalkan Tanah Lot, beliau dengan kekuatannya memindahkan Bongkahan Batu ke tengah pantai (bukan ke tengah laut) dan membangun pura di sana. Ia juga mengubah selendang miliknya menjadi ular penjaga pura. Ular ini konon masih ada sampai sekarang.

Secara ilmiah ular ini termasuk jenis ular laut yang mempunyai ciri-ciri berekor pipih seperti ikan, berwarna hitam berbelang kuning, dan mempunyai racun tiga kali lebih kuat dari ular kobra. Akhir dari legenda itu menyebutkan bahwa Bendesa Beraben akhirnya menjadi pengikut Danghyang Nirartha.

SUPRIYANTHO KHAFID