Berbagai jenis senjata pistol dari berbagai kasus kriminal bersenjata diperlihatkan di Mapolda Aceh, Banda Aceh saat gelar perkara akhir tahun 2011, Sabtu (31/12) silam. ANTARA/Ampelsa
Topik
Infografis
Polisi Data Pekerja Non Warga Aceh
TEMPO.CO, Banda Aceh - Pekerja luar Aceh yang saat ini bekerja di berbagai sektor sudah didata oleh kepolisian. Pendataan untuk keperluan memberikan keamanan kepada mereka. “Pekerja luar Aceh sudah didata, kemudian dilakukan pengamanan terhadap mereka,” kata Kepala Kepolisian Daerah Aceh, Inspektur Jenderal Iskandar Hasan usai pertemuan dengan Komisi Hukum di Banda Aceh, Rabu 11 Januari 2012.
Menurutnya, semua masyarakat Aceh ikut membantu dalam memberikan pengamanan terhadap pekerja luar. Hai ini, kata Kapolda, mengindikasikan kalau keamanan Aceh sudah stabil. “Orang Aceh tidak ada yang ingin ribut, tapi ada (sebagian) yang mau ribut, saya sebut sebagai kelompok oportunis yang ingin memanfaatkan situasi,” ujarnya.
Iskandar berharap masyarakat tidak terpengaruh dengan provokasi yang dilakukan oleh orang tak bertanggung jawab. Kalau ada pun seribu provokator tetapi tidak digubris oleh masyarakat, maka tidak akan berarti.
Perihal perkembangan kasus teror penembakan di Aceh sepanjang Desember 2011 dan Januari 2012, Kapolda menyebutkan masih dalam pengembangan kasus. Ada dua orang yang berhasil ditangkap, pelaku penembakan ke basecamp perusahaan penyurvei minyak dan gas (PT Zaratex) di Desa Ulee Dagang, Sawang, Aceh Utara. Insiden pada Jumat 23 Desember 2011, tidak menimbulkan korban jiwa.
Menurutnya sejauh ini belum bisa dipastikan kasus tersebut merupakan rangkaian kasus teror lainnya. “Makanya masih mengembangkan kasus, belum bisa dipastikan satu rangkaian,” ujarnya.
Teror yang terjadi di Aceh belakangan ini telah menbuat resah pekerja asal Pulau Jawa dan luar Aceh lainnya. Teror telah menimbulkan korban di kalangan pekerja luar Aceh, sedikitnya enam orang tewas dan 10 lainnya luka-luka sejak dua pekan terakhir. Terkait senjata illegal, Iskandar Hasan mengakui masih banyak beredar di masyarakat. Senjata illegal diperkirakan masih ratusan dan merupakan sisa masa konflik.
ADI WARSIDI





