myanmar
Topik
Suu Kyi Bertarung untuk Pemilu Sela
TEMPO.CO , YANGOON: - Pemimpin oposisi Myanmar, Aung San Suu Kyi, memastikan bahwa dia akan bertarung untuk sebuah kursi di parlemen pada pemilu sela, April mendatang. Hal itu kemarin dikemukakan oleh Nyan Win, juru bicara Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD)--partai Suu Kyi--bahwa Suu Kyi mengumumkannya dalam sebuah sidang partai, Senin 9 Januari 2012.
Peraih Hadiah Nobel Perdamaian itu akan bertarung untuk merebut kursi parlemen yang mewakili daerah Kawhmu, pinggiran Yangoon. Yangoon adalah kota terbesar di Myanmar dan kampung halaman Suu Kyi.
Sebanyak 48 kursi parlemen menjadi lowong setelah pemilu legislatif pada November 2010. Pasalnya, para anggota yang terpilih diangkat menjadi menteri untuk mengisi posisi-posisi kabinet pada sidang pertama Januari tahun lalu.
Baru-baru ini Suu Kyi menolak memberi konfirmasi apakah dia secara pribadi bertarung untuk sebuah kursi dengan mengatakan kepada Associated Press dalam sebuah wawancara bahwa keputusannya akan diumumkan akhir bulan ini.
Dia mengungkapkan optimisme hati-hati soal reformasi pemerintah. "Saya pikir terdapat beberapa rintangan, dan ada beberapa bahaya bahwa kita harus mencermatinya," kata Suu Kyi. "Saya khawatir soal seberapa banyak dukungan yang ada di militer untuk perubahan-perubahan."
Jika NLD memenangi seluruh 48 kursi yang akan diperebutkan dalam pemilu sela 1 April nanti, itu akan memiliki kekuatan minimal.
Komposisi di parlemen menunjukkan militer dijatah 110 kursi dari 440 kursi di majelis rendah dan 56 kursi di 224 kursi majelis tinggi. Dan partai utama yang pro militer menggenggam 80 persen dari 498 kursi yang diperebutkan dalam pemilu.
Pekan lalu pemerintah menyetujui partisipasi NLD yang secara formal terdaftar sebagai partai politik pada Desember tahun lalu setelah dihapus dari barisan partai yang terdaftar ketika memboikot pemilihan umum. NLD menyebut aturan pemilu tidak adil, terutama karena mengecualikan Suu Kyi sebagai salah satu kandidat.
Partai Suu Kyi pernah menang besar dalam pemilu 1990, tapi junta militer menolak hasilnya. Lalu rezim militer mengisolasi Suu Kyi lewat tahanan rumah yang selalu diperpanjang per tahun selama 15 tahun dengan tujuan menjegal popularitasnya.
| AP | Al Jazeera | The New York Times | Dwi Arjanto





