foto

TEMPO/Amston Probel

Media Belum Peka Pada Korban Kekerasan Seksual

TEMPO.CO, Jakarta- Komisi Nasional (Komnas) Perempuan dan Dewan Pers menilai, media massa belum sensitif dalam memberitakan masalah kekerasan seksual. Masruchah, Wakil Ketua Komnas Perempuan mengatakan, terkadang media memuat identitas korban yang sesungguhnya. Hal ini menurutnya akan membuat pelaku kekerasan seksual mengancam korbannya. ''''Pelaku terkadang akan mengancam korban dan keluarganya,'''' kata Masruchah, Rabu 11 Januari 2012.

Pengurus Dewan Pers Uni Lubis, membenarkan hal tersebut. ''''Masih ada laporan media yang tidak mengaburkan identitas korban,'''' kata Uni. Dia menuturkan, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, laporan masyarakat terhadap media mengalami peningkatan.



Pada 2010 Dewan Pers hanya menerima satu laporan terkait pemberitaan pencabulan, sedangkan 2011 ada 21 laporan yang masuk, delapan diantaranya terkait dengan pencabulan. ''''Kasus yang 2010 itu sampai membuat korbannya dibuli oleh teman-temannya karena tidak merahasiakan identitas dia,'''' kata Uni.

Menurut Uni, media memang berada dalam posisi yang dilamatis antara memenuhi hak masyarakat untuk tahu dan melindungi privasi korban. Namun menurutnya, hal itu bisa disiasati. ''''Perlu diskusikan sampai sejauh mana kita memenuhi hak masyarkat itu,'''' kata dia.

Rakhmawati, aktivis Aliansi Jurnalistik Independen menuturkan, masih banyak wartawan yang tidak berhati-hati ketika mewawancarai korban kekerasan seksual. Padahal menurut Helga Worotitjan, aktivis Inspirasi Indonesia, ketika diminta menceritakan pengalamannya, korban akan merasa diingatkan kembali pada pengalaman traumatis tersebut.



''''Ketika korban untuk pertama kalinya menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya, dia akan kembali merasakan efek kekerasan seksual, walaupun kejadian tersebut sudah terjadi puluhan tahun yang lalu,'''' kata Helga.

Terkait hal tersebut, Uni Lubis menyarankan agar melibatkan orang ketiga ketika mewawancarai korban. ''''Kalau perlu melibatkan ahli agar tidak membuat trauma yang lebih dalam,'''' ujarnya.

Selain permasalah pengaburan identitas dan cara mewawancarai korban, Abdullah Alamudi, mantan Pengurus Aliansi Jurnalistik Independen (AJI) menuturkan, bahasa yang digunakan oleh media juga terkadang tidak sensitif. Media seringkali tidak peka dalam memilih kata, misalnya kata ''menggagahi'' untuk pelaku pemerkosaan. ''''Bagaimana disebut ''gagah'' kalau dia memperkosa,'''' kata Abdullah.

NUR ALFIYAH