Fokuskini.com
Topik
Foto Terkait
Pluralisme Dari Sebuah Guci
TEMPO.CO, Jakarta - Penulis buku Muna Panggabean merilis buku Dari Sebuah Guci dan menyiapkan proyek musikalisasi puisi dengan komposer Aminoto Kosin. Buku dirilis pada 25 Januari nanti dan musikalisasi pada tahap mixing di Los Angeles, Amerika Serikat.
Buku mengangkat tema pluralisme ini disiapkan Muna, seorang ibu rumah tangga sejak dua tahun lalu. Ibu lima anak ini terusik dan prihatin terhadap pertentangan kaum fundamentalis dan pluralis.”Saya mengajak teman teman menghasilkan karya dan berperan melalui kata kata,” kata Muna, jebolan fakultas ilmu budaya Universitas Indonesia.
Menurutnya, pluralisme merupakan penghormatan dan kerendahatian untuk mengakui kesetaraan manusia untuk satu hal yang diyakini dan dipercayai. Ada 18 cerita pendek terpilih dalam buku ini. Sebagian penulis memilih topik cinta antar dua anak manusia berbeda keyakinan yang menjadi penegasan cinta bermekaran dalam belantara perbedaan, bukan persamaan.
Ada cerita kerinduan seorang lelaki Batak untuk berwudhu dengan air danau Toba.Ada juga tentang percintaan sejenis, fundamentalisme, perjodohan dan agama versi tradisi. Muna juga menulis cerita Namaku Kenisha.
Terkait dengan buku ini pula dipersiapkan proyek musikalisasi 22 lagu yang akan ditampilkan dalam konser musik, Februari mendatang. Proyek ini dikerjakan di dua tempat, Amerika Serikat (konon melibatkan musisi dan artis kelas dunia) dan Jakarta oleh komposer Aminoto Kosin.
Di Jakarta, rekaman melibatkan sejumlah penyanyi seperti Ari Lasso, Cindy Bernadette, Dewi Gita, Eka Deli, Rio Febrian, Mike Mohede yang kini sedang taraf mixing suara di Los Angeles, Amerika Serikat.
Menurut Mike Mohede, esensi dalam lirik dua lagu yang dinyanyikannya sangat dalam. Penyanyi jebolan "Indonesian Idol" ini memuji pemilihan bahasa puitis yang dianggap telah membantunya untuk masuk ke dalam penjiwaan lagu dilantunkan dalam proyek musik. Ia menyanyikan satu solo, Masih Denganmu Kasih dan lagu duet tentang seseorang yang harus merelakan kepergian kekasih berbeda keyakinan.
Mengapa mengambil simbol guci menurutnya, ini tempat menampung air dan secara metafora akan membasuh semua prasangka dan ingin menyejukkan setiap orang. Menurut Muna, banyak kejadian kecil di sekitar masyarakat luput dari perhatian selama ini. Kejadian-kejadian itu memicu pertentangan dan menyulut perbedaan. Masyarakat cenderung diam dan tidak berupaya untuk mengubahnya bersama-sama.
"Kita berharap ada tangan-tangan kuat pemerintah membereskannya, padahal tidak perlu berharap seperti itu. Kita bisa menggerakkan sendiri perubahan itu, menggerakkan mulai dari kita,” katanya. Dan gerakan yang menyemai dan menghidupkan semangat pluralisme, menghargai keberagaman masyarakat.
Tentang konser nanti, Muna berpendapat, masyarakat lebih berbudaya mendengar ketimbang membaca. Sehingga arus ada daya dorong musik soundtrack. Lagu lagu menjadi pintu pembuka dari cerita pendek dan jadi halaman berikutnya,” jelas Muna yang berharap konsernya menjadi syair lagu yang bisa menyadarkan tentang suatu sikap.
Evieta Fadjar





