Thailand Digegerkan Temuan Bahan Pembuat Bom

TEMPO.CO , Bangkok - Kepolisian Thailand menemukan bahan peledak bom di sebuah gedung di kawasan Samut Sakhon, barat daya Thailand. Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra mengingatkan warganya untuk tidak panik.

"Saya meminta masyarakat untuk tidak panik, situasi sudah terkontrol," ujarnya kepada reporter, Senin 16 Januari 2012.

Bom tersebut diduga dimiliki seorang warga negara Libanon bernama Atris Hussein. Atris diduga datang ke Thailand menggunakan paspor Swedia. ia diyakini memiliki hubungan dengan Hizbullah, satu kelompok Syiah di Lebanon yang didukung Suriah dan Iran dan masuk dalam daftar hitam organisasi teroris versi Amerika Serikat.

Selain menemukan zat-zat peledak, kepolisian juga menemukan 4.380 kilogram urea dan 10 galon cairan amonium nitrat. Kepada Kepala Polisi Nasional, Priewpan Damapong, pria tersebut mengaku tidak berencana melakukan serangan bom di Thailand. Namun sekadar untuk memindahkannya ke negara lain.

Hal serupa dikatakan oleh Yuthasak Sasiprapha, Menteri Pertahanan Thailand. Menurutnya, Thailand bukanlah target utama operasi. Namun ia juga tidak menepis adanya kemungkinan terjadinya teror di wilayah tempat warga Amerika dan Israel sering berkunjung.

Dalam pernyataannya ia juga menyebutkan adanya tersangka lain. Namun tersangka berhasil kabur. Polisi sampai saat ini masih menahan dan belum mendakwa pelanggaran apa pun terhadap Atris.

Peringatan tentang adanya teror ini sebelumnya telah dikeluarkan oleh Amerika dan Israel pada Jumat lalu. Kedua negara tersebut mengingatkan warga negaranya untuk berhati-hati atas serangan teror yang mungkin terjadi di Thailand.

Para pejabat Thailand tampak terganggu oleh travel warning yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat Israel dan beberapa negara lainnya. Menteri Luar Negeri Surapong Towijakchaikul mengatakan akan bertemu para diplomat dari negara-negara tersebut untuk menjelaskan keadaan.

Pariwisata merupakan Produk Nasional kebanggaan Thailand yang telah menyumbangkan pendapatan terbesar. Para pejabat setempat selalu akan berusaha untuk menjaga jumlah turis untuk terus berdatangan.

REUTERS| ANANDA PUTRI