Dahlan Iskan. TEMPO/Hariandi Hafid
Topik
Foto Terkait
Dahlan Terinspirasi Iskan yang Tukang Kayu
TEMPO.CO, Magetan - Siapa sosok paling berpengaruh dan jadi inspirasi Dahlan Iskan hingga membuatnya jadi sukses seperti sekarang? Jawabannya adalah ayahnya, Mohamad Iskan. Dahlan adalah anak ketiga dari empat bersaudara yang dilahirkan pasangan Mohamad Iskan dan Lisnah.
Adik kandung Dahlan, Ahmad Zainuddin, menilai ayah merekalah sosok yang paling berpengaruh dalam hidup keluarga, termasuk jadi inspirasi Mohamad Dahlan–nama kecil Dahlan Iskan.
“Bapak itu orangnya memang pekerja keras. Dulu beliau bekerja sebagai tukang kayu bangunan,” tuturnya saat ditemui di kampung halaman keluarganya di Dusun Kebondalem, Desa Tegalarum, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Jumat, 13 Januari 2012.
Zainuddin–akrab dipanggil Udin–masih ingat betul bagaimana rutinitas ayahnya sehari-hari, baik bekerja dan beribadah, demi menghidupi keluarga yang waktu itu tergolong kurang mampu. “Dalam sebulan, kami makan nasi saja bisa dihitung,” ujar Udin yang kini tinggal di Kelurahan Manisrejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun.
Udin menceritakan, setiap hari, ayah mereka berangkat kerja sekitar pukul 6 pagi. “Menjelang waktu zuhur, bapak pulang dan salat,” tuturnya. Setelah salat, Iskan tak langsung istirahat. “Beliau langsung pegang cangkul untuk bercocok tanam di belakang rumah atau sawah dekat musala (musala dekat rumah),” ujarnya.
Iskan bercocok tanam umbi-umbian dan pohon pisang. “Bercocok tanam apa pun agar tumbuh tanaman yang bisa dimakan,” katanya. Sekitar pukul 1 siang, Iskan kembali ke tempat kerjanya jadi buruh tukang kayu bangunan di rumah warga sekitar.
Hari sudah petang, Iskan baru kembali pulang ke rumah. Setelah salat magrib, Iskan yang sempat mengenyam pendidikan di pesantren itu mengajar ngaji anak-anak di musala dekat rumah hingga waktu salat isya. Sehabis isya, Iskan istirahat dan bangun tengah malam untuk salat tahajud hingga menjelang waktu salat subuh. Pagi harinya ia kembali bekerja seperti biasa. “Rutinitas ini dilakukan bapak setiap hari,” ucap Udin.
Ketelatenan, kedisiplinan, dan kegigihan ayahnya inilah yang jadi inspirasi Dahlan sejak remaja, dewasa, sampai jadi sukses sekarang. “Mas (Dahlan) melihat bapak seperti itu jadi terinspirasi,” tutur Udin.
Bapaknya, Iskan, yang lahir tahun 1907, wafat pada 2 Februari 1997 pada usia 90 tahun. Sedangkan ibunya, Lisnah, meninggal lebih dulu pada 21 Maret 1963 saat anak-anaknya masih kecil.
Udin juga menyaksikan bagaimana kerja keras Dahlan semasa membesarkan koran Jawa Pos. “Dulu itu jam 3 atau jam 4 dinihari baru pulang dari kantor. Itu dilakukan bertahun-tahun,” katanya. Sebelum mengelola Jawa Pos, Dahlan jadi wartawan Tempo di Surabaya. Jawa Pos yang dulu kolaps dibeli PT Grafiti Pers yang memiliki Tempo dan Dahlan dipercaya mengelolanya hingga jadi media cetak terbesar di Jawa Timur.
Salah satu sepupu Dahlan, Mashudi, juga merasakan bagaimana susahnya menemui Dahlan di tengah kesibukannya di Jawa Pos. Suatu ketika Mashudi ingin menemui Dahlan di Surabaya. “Saya tahu dia sibuk, akhirnya saya tunggu dalam mobilnya. Ya, kami hanya bisa bicara saat perjalanan di dalam mobil,” ujarnya.
ISHOMUDDIN





