Pekerja mengerjakan pembangunan gedung bertingkat di Kalibata Jakarta Selatan, Rabu (26/8). Pemerintah menilai kinerja investasi belum sepenuhnya pulih pasca krisis global sehingga belum menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Tempo/Panca Syurkani
Topik
Nilai Investasi Yogyakarta Meningkat Pesat
TEMPO.CO, Yogyakarta - Nilai investasi di Daerah Istimewa Yogyakarta meningkat tajam. Pada 2010 tercatat hanya Rp 4,3 triliun. Pada 2011 naik menjadi Rp 7,75 triliun. Sektor perhotelan mendominasi investasi karena DIY merupakan daerah tujuan wisata.
"Ada 15 hotel baru yang dibangun pada 2011," kata Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Andung Prihadi Santoso, Rabu 18 Januari 2012. Pada 2012 pemerintah menargetkan investasi masuk sebesar Rp 8,3 triliun, yakni Rp 5,7 triliun dari penanaman modal asing dan Rp 2,6 triliun dari penanaman modal dalam negeri.
Investasi di bidang perhotelan, kata dia, masih sangat menguntungkan. Sebab, potensi pariwisata di DIY cukup besar. Apalagi Yogyakarta tidak hanya menjadi tujuan wiaata biasa, melainkan juga lokasi tepat untuk Meeting, Incentives, Converence and Exhibition (MICE).
Dia menambahkan adanya rencana pembangunan bandar udara baru di DIY mampu menarik investor menanamkan modal. Jadi ada multiefek yang ditimbulkan. "Kalau bandar udara baru itu kapasitasnya lebih besar, jumlah orang yang datang ke sini (Yogyakarta) juga lebih banyak," kata Andung.
Ditemui terpisah di gedung Bank Indonesia Yogyakarta, Ketua Jogja Investment Forum, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Hadiwinoto, mengatakan sektor perdagangan, hotel, dan restoran, hingga 2012 diprediksi masih mendominasi pertumbuhan investasi domestik.
Dengan pertumbuhan hotel yang begitu pesat, ada penambahan jumlah kamar. Hal itu, kata dia, menjadi indikasi peningkatan jumlah wisatawan. Secara sinergis, peningkatan perekonomian juga ditunjang peningkatan akomodasi dan transportasi. "Iklim investasi akan semakin bagus jika didukung berbagai pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat," kata Hadiwinoto.
MUH SYAIFULLAH





