TEMPO/Arie Basuki
Topik
Eksploitasi Pembangkit Panas Bumi Terganjal Izin
TEMPO.CO, Purwokerto -- Belum keluarnya izin eksploitasi Pembangkit Listrik Geotermal di Baturraden, Banyumas, oleh Kementerian Kehutanan membuat pekerjaan proyek itu molor. Padahal, rencananya proyek senilai Rp 7 triliun itu bisa menghasilkan listrik pada 2014. Diperkirakan proyek akan mundur hingga 2017.
“Izin eksploitasinya masih dalam proses,” kata Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral Banyumas, Anton Adi Wahyono, Rabu, 18 Januari 2012.
Selain izin, investor PT. Sejahtera Alam Energy harus mengganti lahan hutan lindung yang dijadikan sebagai tempat eksploitasi. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan lahan seluas 50 hektare di hutan lindung lereng Gunung Slamet. Lahan penggantinya disiapkan seluas 100 hektare.
Menurut dia, di Banyumas ada dua titik yang akan dieksploitasi dan dua titik di wilayah Brebes. Dua titik di Banyumas masing-masing menghasilkan listrik sebesar 110 megawatt. Satu megawatt butuh US$ 3-5 juta sementara listrik yang dijual ke PLN untuk pasokan jaringan Jawa-Bali seharga US$ 9,47 sen per kilowatt hour.
Masih menurut Anton, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2011 tentang Penggunaan Kawasan Hutan Lindung untuk Penambangan Bawah Tanah, proyek Baturraden termasuk dalam percepatan 10 ribu megawatt tahap dua. “Kami berharap izin eksploitasinya segera turun. Ini pembangkit ramah lingkungan,” katanya. Kontrak investasinya 35 tahun.
Di Gunung Slamet, potensi cadangan panas bumi diperkirakan mencapai 175 megawatt. General Manager PT. SAE, Petto Rashito, mengatakan bisa menerima keputusan Kementerian Kehutanan yang belum mengeluarkan izin eksploitasi. “Kami bisa menerima, tapi jangan mundur-mundur terus. Karena semakin lama izinnya keluar, biaya investasi semakin membengkak,” kata dia.
Petto menjamin proyek itu tidak berbahaya meski pengeboran dilakukan di Gunung Slamet yang masih aktif. “Tidak ada bedanya, mengebor di gunung aktif atau sudah mati,” imbuhnya.
Dosen Program Studi Teknik Elektro Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Suroso, mengatakan pemerintah harus mendukung proyek tersebut. “Indonesia mempunyai potensi listrik geothermal terbesar di dunia, yaitu sebesar 30 gigawatt atau 40 persen dari total di dunia,” kata dia. Dari jumlah itu, tambah dia, baru 1.189 megawatt yang sudah dimanfaatkan.
Saat ini pembangkit di Indonesia masih didominasi energi dari fosil yang menghasilkan karbon tingkat tinggi. Dia menyebutkan, tingkat ketergantungan pembangkit di Indonesia terhadap energi fosil masih tinggi, yaitu batu bara sekitar 26 persen dan minyak bumi 47 persen. “Dengan energy geothermal, negara bisa menghemat Rp 1,1 triliun setiap tahun,” katanya.
ARIS ANDRIANTO





