livescience.com
Topik
Fosil Kera Besar Ditemukan di Eropa
TEMPO.CO , Jakarta:- Gabungan peneliti dari Jerman, Bulgaria, dan Perancis berhasil mendokumentasikan keberadaan kera besar yang mampu bertahan di Eropa berdasarkan analisis gigi geraham. Kera besar dijumpai di daratan Eropa, di lansekap seperti padang rumput, hingga tujuh juta tahun lalu.
Temuan itu berawal dari keberadaan gigi geraham hominid berumur tujuh juta tahun yang ditemukan di dekat kota Bulgaria, lokasi kera besar bertahan hidup lebih lama di Eropa dari yang selama ini diyakini.
Proyek penelitian melibatkan tim peneliti internasional dari the Bulgarian Academy of Science, the French Centre National de la Recherche Scientifique, dan Madelaine Böhme from the Senckenberg Center for Human Evolution and Paleoenvironment at the University of Tübingen.
Penemuan baru ini dapat mengubah pemahaman selama ini tentang beberapa tahapan utama dalam evolusi hominid.
Sampai saat ini para ilmuwan berasumsi bahwa kera besar punah di Eropa setidaknya 9 juta tahun lalu karena perubahan kondisi iklim dan lingkungan. Di bawah arahan Nikolai Spassov dari Museum Nasional Ilmu Pengetahuan Alam di Sofia, Bulgaria, geraham ditemukan dalam lapisan fluvial Miosen Atas di dekat Chirpan. Morfologi dan ketebalan enamel gigi menunjukkan fosil hominid. Usia fosil berpasir itu menjadikannya kera besar terakhir yang dikenal dari benua Eropa.
Fosil terbaru yang ada saat ini adalah spesimen Ouranopithecustahun macedonensis berusia 9,2 juta tahun dari Yunani. Sementara itu, hominid dianggap telah menghilang dari Eropa sebelum 9 juta tahun lalu.
Ekosistem daratan Eropa saat ini telah berubah dari sebagian besar hutan ke padang rumput seperti lansekap dengan iklim musiman. Para peneliti sudah memperkirakan bahwa kera besar, yang umumnya mengkonsumsi buah-buahan, tidak dapat bertahan hidup karena kekurangan buah-buahan musiman.
Para ilmuwan juga menemukan binatang khas daerah padang rumput di lapisan tanah ditemukannya fosil geraham hominid. Antara lain beberapa spesies gajah, jerapah, rusa, antelop, badak, dan kucing bertaring tajam. Penemuan ini menunjukkan bahwa hominid Eropa mampu beradaptasi dengan iklim musiman pada ekosistem padang rumput.
Kesimpulan ini semakin dikuatkan oleh analisis mikroskop elektron terhadap permukaan geraham, yang mengungkapkan bahwa hominid Bulgaria telah mengkonsumsi benda keras dan kasar seperti rumput, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Perilaku makan ini menyerupai hominid Afrika yang berumur lebih muda, yakni sekitar 4 juta tahun lalu.
"Kami sekarang perlu memikirkan kembali dimana asal-usul manusia," kata Profesor Madelaine Böhme dari University of Tübingen. Sebab, sejauh ini kebanyakan ilmuwan percaya bahwa evolusi manusia terjadi secara eksklusif di Afrika dan bahwa manusia bermigrasi dari Afrika ke benua lain.
"Ada bukti yang bertambah, bagaimanapun, bahwa bagian penting dari evolusi manusia terjadi di luar Afrika, yakni di Eropa dan Asia Barat," timpal Profesor Böhme menambahkan.
Peran utama migrasi dalam evolusi hominid awal didokumentasikan oleh para ahli paleontologi dari the Senckenberg Center for Human Evolution and Paleoenvironment pada Juni 2011. Ketika itu mereka menunjukkan hominid Eurasia awal sebagai contoh.
Potongan teka-teki selanjutnya yakni gigi geraham terisolir yang digali dari daerah barat daya Sigmaringen, Jerman, dan diperkirakan berumur 17 juta tahun lalu. Kelompok ahli paleoklimatologis Tübingen dipimpin Profesor Böhme merekonstruksi kondisi iklim saat itu dan menunjukkan bahwa kera besar tersebar di bawah iklim lembab tropis-subtropis dari Afrika ke Eropa. Bersama-sama, baik melalui penyelidikan dokumen populasi kera besar setidaknya 10 juta tahun terakhir di Eropa dan evolusi yang signifikan dari makhluk pemakan buah menjadi pemakan benda keras.
SCIENCEDAILY | MAHARDIKA SATRIA HADI





