Jalur Ciputat-Lebak Bulus macet akibat pasar kaget yang diadakan tiap sabtu - minggu, Jakarta,Minggu (12/07). Foto:TEMPO/Dinul Mubarok
Topik
Macet di Pasar Minggu, Mungkinkah Jalan di Atas Sungai?
TEMPO.CO , Jakarta:Alur Kali Baru Timur di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, akan dibuatkan box culvert. Rangkaian kotak-kotak cetakan dari beton itu nantinya bisa dimanfaatkan sebagai badan jalan baru sehingga masalah kemacetan di ruas jalan konvensional di kawasan itu bisa dipecahkan.
Sebuah proposal pembangunan kotak-kotak itu telah dibuat dan surat keputusan proyek sedang digarap. “Kenapa tidak kami membangun jalan di atas sungai,” kata Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Jalan Jakarta Selatan Yayat Hidayat kepada Tempo, Selasa lalu.
Menurut Yayat, sasaran utama dari pembangunan box culvert memang mengatasi kemacetan di area Pasar Minggu. Ini setelah Suku Dinas akhirnya menyerah tak mampu membangun tiga ruas jalan baru di tiga wilayah lain. Mereka terbentur masalah pembebasan lahan.
Adapun membangun jalan di atas box culvert dianggap tak mengambil lahan di darat. Atau setidaknya meminimalkan kebutuhan itu. “Bagian atas box culvert bisa dijadikan jalan tanpa mematikan aliran sungai,” kata pria yang berlatar belakang pendidikan teknik sipil itu.
Tapi, Yayat mengingatkan, sebelum box culvert dipasang hingga menjadi seperti gorong-gorong besar, sungai mesti dikeruk dan dilebarkan terlebih dulu. Baru setelah itu box culvert ditanam atau dipasang di dalam badan sungai.
Di bagian atas box culvert lalu bisa ditambah lapisan hotmix ataupun jalan beton tanpa melupakan membuat lubang drainase di sisi kanan atau kirinya. Lubang membuat sungai masih memungkinkan menerima air dari luar seperti air hujan.
Yayat mengatakan pembangunan box culvert di Kali Baru Timur nantinya sepanjang 6,1 kilometer dengan lebar 12 meter. Jalan di atas sungai itu akan terbentang dari sungai dekat Terminal Pasar Minggu ke arah Jalan Raya Pasar Minggu, Saharjo, dan Supomo.
Yayat menekankan kelebihan model konstruksi jalan ini, yakni pemerintah tidak perlu lagi terganjal oleh masalah-masalah pembebasan lahan. “Hanya pada tempat-tempat tertentu saja yang masyarakatnya mempunyai rumah menjorok ke sungai, baru dilakukan pembebasan lahan,” katanya.
Karena alasan anggaran, Yayat menambahkan, proyek akan dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta. Pihaknya membuatkan proposal dan mengurus penerbitan surat keputusan ke dinas-dinas terkait, seperti dinas tata ruang. "Pembuatan trace (proposal) dan SK memakan waktu sampai delapan bulan," katanya.
Biaya yang dibutuhkan ditaksir hingga Rp 240 miliar untuk menyelesaikan proyek jalan di atas sungai ini. Suku Dinas di Jakarta Selatan pun angkat tangan. “Karena anggaran tahun ini saja hanya berkisar Rp 93,5 miliar,” kata Yayat.
SUNDARI





