Model kereta cepat pengangkut massal (Mass Rapid Transportation/MRT) di arena PRJ di Jakarta, Minggu (14/6). Proyek tahap awal rencananya menghubungkan Lebak bulus-Dukuh Atas dan akan mulai beroperasi tahun 2016. ANTARA/Fouri Gesang Sholeh
Infografis
MRT Tak Bakal Ganggu Usaha Warga
TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Dinas Perhubungan Pemerintah Kota Jakarta Udar Pristono membantah pembangunan mass rapid transit layang bakal merusak iklim usaha warga yang dilalui jalur MRT. Menurut Pristono, justru dengan adanya jalur MRT usaha warga akan makin dilirik para pengguna angkutan transportasi massal tersebut.
“Jangan pesimis dulu. MRT itu mampu mengangkut 60 ribu penumpang per jam dalam satu arah. Artinya ada banyak orang yang lewat tempat usaha warga,” ucap Pristono saat dihubungi, Kamis, 19 Januari 2012.
Ia menambahkan, seperti halnya di luar negeri, MRT memiliki daya tarik tinggi untuk menyedot para pengguna angkutan umum dan juga pengguna kendaraan pribadi.
Di sisi lain, Pristono mencoba membandingkan dengan proyek Transjakarta yang pada mulanya banyak menuai kecaman dari masyarakat. “Sekarang coba lihat, banyak sekali kan pengguna Transjakarta,” katanya. Untuk itu, dia meminta kepada masyarakat agar ikut mendukung proyek MRT.
Sebelumnya, sejumlah warga di Jalan Panglima Polim hingga Fatmawati, Jakarta Selatan, menolak pembangunan MRT layang. Warga yang rata-rata berprofesi sebagai wiraswasta ini mengharapkan pembangunan MRT di bawah tanah. Menurut mereka, pembangunan MRT layang akan berdampak negatif terhadap usaha mereka.
Pristono mengungkapkan proyek MRT telah melewati kajian terlebih dahulu. Hasil kajian tersebut menyatakan bahwa MRT layang jauh lebih ekonomis dan mudah pembangunannya dibandingkan dengan MRT bawah tanah. “Kalau MRT bawah tanah, kami harus membuat ruang dan pengerjaannya pun lama,” ujarnya.
Di negara-negara lain, seperti Malaysia, lanjutnya, MRT yang dibangun pun menggunakan pola layang bukan bawah tanah.
ADITYA BUDIMAN





