TEMPO/Panca Syurkani
Topik
Foto Terkait
Perajin Yogya Kurang Dukungan Pemerintah Daerah
TEMPO.CO, Yogyakarta - Perajin mebel dan kerajinan dari Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti pameran International Furniture and Craft Fair Indonesia (IFFINA) pada 11-14 Maret 2012 di Jakarta International Expo Kemayoran.
Perajin anggota Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) Yogyakarta menargetkan transaksi sebesar US$ 35 juta dengan target transaksi nasional sebesar US$ 450 juta.
Sayangnya jumlah perajin peserta pameran mebel dan kerajinan tingkat dunia itu menurun, hanya 40 perajin dari DIY. Padahal pada 2011 sebanyak 65 perajin mengikuti pameran itu, dengan target transaksi US$ 48 juta. "Kondisi permebelan dilanda krisis bertubi-tubi. Ini saatnya bangkit," kata Ketua Komite Daerah ASMINDO DIY, Yuli Sugiyanto, Kamis 19 Januari 2012.
Yuli mengatakan dukungan pemerintah dalam pameran itu sangat minim. Tahun ini pemerintah hanya memberi fasilitas stan seluas 27 meter persegi. Selain itu para perajin hanya menempati ruang pamer seluas 1.200 meter persegi. Padahal tahun lalu seluas 2.000 meter persegi.
Dia membandingkan dengan daerah lain. Jepara atau Surakarta, misalnya, pemerintahnya mendukung maksimal, bahkan memberi bantuan penyewaan tempat dan fasilitas pengiriman barang.
Biaya sewa tempatnya Rp 1,3 juta per meter persegi. Angka itu sangat berat bagi perajin. Sebab, selain harus mengeluarkan biaya sewa, perajin juga masih harus menanggung pelengkap lain seperti personal marketing, marketing kit, biaya transportasi, dan biaya hidup selama empat hari. "Kami berharap ada dukungan lebih dari pemerintah dan DPRD," kata Yuli.
Endro Wardoyo, Sekretaris Asmindo DIY, mengatakan keikutsertaan pengusaha mebel dan kerajinan dalam pameran berskala internasional itu sangat penting, mengingat kondisi bisnis permebelan belum pulih. "Ini wajib kami ikuti untuk meningkatkan pemasaran, baik dalam negeri maupun dunia internasional," kata dia.
MUH SYAIFULLAH





