dok. Bentara Budaya Bali
Topik
Melodi Garis Tedja Suminar
TEMPO.CO, Bali - Wajah Cak Rina menegang. Maestro penari kecak dari Ubud itu tampak serius menatap jauh ke depan. Tapi komposisi dari gerak tangan, otot-otot di tubuhnya, hingga rambut berombak yang jatuh di bahunya seperti memanjakan mata dengan garis dan warna. Lukisan pun menjadi makin kaya dengan latar belakang yang menampilkan gerakan para penari. Mereka seperti mengambang di udara.
Lukisan itu adalah karya Tedja Suminar, pelukis senior yang menetap di Bali. Pameran di Bentara Budaya Bali, hingga 23 Januari ini, yang menampilkan 95 lukisan dan sketsa ini merupakan rangkaian pameran retrospeksi dari 1957 hingga 2011. “Ini merupakan ungkapan terima kasih kepada mereka yang telah memberikan pemaknaan bagi kehidupan kesenian di Bali,” ujar Tedja, yang kini berusia 75 tahun itu.
Sketsa merupakan keahlian lain dari Tedja, yang pernah belajar khusus pada Maestro Abas Alibasyah. Satu yang menarik adalah tarian Ramayana yang dilatari tari Kecak. Sketsa itu tampak begitu hidup. Meski gerak para penarinya seperti dibekukan, tampak teramat luwes.
Keahlian inilah yang mengundang desak kagum almarhum W.S. Rendra. Dalam catatannya pada 2002 yang dibacakan di malam pembukaan, “Si Burung Merak” itu menyebut garis-garis dalam lukisan Tedja layaknya sebuah melodi. Sedangkan paduan warna-warnanya memunculkan irama yang membuai penikmatnya.
Karya Tedja, yang lahir di Madiun, 16 April 1936 ini, disebut Rendra muncul sebagai suara kalbunya. Tidak sekadar menciptakan gambar, dia juga memindahkan emosi dan ekspresi jiwa para tokoh yang menjadi obyek lukisannya. Rendra menganggap Tedja sebagai penyair yang berpuisi dengan bahasa seni rupa.
Menurut Efix Mulyadi, Direktur Bentara Budaya Bali, pameran ini diselenggarakan untuk memberi kesempatan kepada khalayak menyimak apa saja yang telah dihasilkan Tedja, sepanjang lebih dari setengah abad berkarya.
Jalan panjang telah ditempuh Tedja. Dia pernah bekerja di bagian penerangan Angkatan Laut RI, pada 1950-an. Di Jawa Timur namanya teramat harum. Pada 1980 dia beroleh penghargaan dari gubernur Jawa Timur.
Pada 1989, dan yang baru 2011, bersama seniman Surabaya lainnya seperti Leo Kristi dan komponis Abdul Syukur, dia mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Surabaya atas pengabdiannya di bidang n seni.
Menurut Efix, keramahan, kehangatan, dan keterbukaan terhadap orang lain adalah ciri yang melekat pada sosok Tedja. Saat Tedja sudah mulai terkenal, dia mengajak Efix--yang kala itu masih memulai karir sebagai wartawan. Peristiwa itu memberi pelajaran akan sikap hidup Tedja. “Kesenian sangat penting, tapi lebih penting adalah kehidupan yang menyangganya."
Karena itu Efix memberikan permakluman ketika Tedja mengabarkan bahwa dirinya praktis “meninggalkan” dunia seni dan dan beralih mengerjakan berbagai macam proyek untuk menopang kebutuhan keluarga. Pilihan itu kemudian berisiko. Nama Tedja yang semula melambung sebagai satu dari tiga pembuat sketsa paling masyhur--bersama Ipee Ma’roef dan Syahwil--langsung redup.
Dalam pameran ini, dari karya-karya Tedja, terlihat beragam ungkapan, perkembangan pemikiran, dan juga teknis menyangkut pelaksanaan dan eksekusi gagasannya. Hasilnya, menurut Efix, sejumlah karyanya tidak menjadi sekadar dokumentasi terhadap tempat, peristiwa, dan manusia pelakunya, melainkan masih tetap bersinar sebagai karya seni yang mandiri.
Berbagai sketsanya tentang kehidupan di Surabaya, seperti Jembatan Merah, atau panorama Jakarta seperti Katedral, serta berbagai peristiwa seperti odalan atau ngaben di Bali menegaskan penilaian itu. Karya-karya “lukisan biografi” tokoh-tokohnya pun masih tetap merupakan keunikan di dalam dunia seni Indonesia.
ROFIQI HASAN





