Keren, Ponsel Darurat Bisa Menyala Hingga 15 Tahun
Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga
Kawasan Sosrowijayan Yogyakarta, salah satu kampung wisata yang banyak dikunjungi turis mancanegara di. TEMPO/Pribadi Wicaksono
TEMPO.CO , Yogyakarta - Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun ini membidik potensi kampung sebagai salah satu target pengembangan wisata untuk mengimbangi kesuksesan desa wisata yang telah dirintis. “Kampung menjadi basis potensi wisata yang akan kami garap tahun ini,” kata Kepala Dinas Pariwisata DIY, Tazbir, Kamis 19 Januari 2012.
Pengembangan kampung wisata ini, diakui Tazbir, pernah dirintis pada 2002, tapi belum menunjukkan perkembangan maksimal. Diduga hal itu disebabkan oleh pasifnya kreativitas pihak pengelola ataupun keterbatasan kemampuan pemerintah.
Dari sekitar 500-an lebih kampung di Kota Yogyakarta, jumlah kampung wisata di kota ini masih sangat sedikit. Selama ini kampung wisata yang masih jadi primadona turis antara lain Dipowinatan, Cokrodiningratan, Tahunan, Kadipaten, Purbayan, Tamansari, Sosrowijayan, dan Prawirotaman.
“Kami berharap dengan keaktifan masyarakat dan pemerintah semakin bisa menambah kampung-kampung yang jadi tujuan baru wisata,” kata dia. Selama ini, menurut Tazbir, kampung wisata yang ada di Yogyakarta bisa sukses karena masyarakat pengelola bisa memanfaatkan potensi kampung tersebut.
Misalnya, di Kampung Dipowinatan, banyak turis asing, khususnya dari Republik Cek, yang berkunjung ke daerah tersebut karena ada warga Indonesia yang kebetulan lama tinggal di Cek lalu pulang dan sering mengundang para warga Cek datang.
Sedangkan di Kampung Cokrodiningratan ada program "Code River Walk", yakni sebuah kegiatan mengajak turis berjalan-jalan kurang lebih tiga kilometer blusukan menikmati arsitektur khas, jajanan kampung, hingga kegiatan warga di perkampungan.
Begitu juga untuk Kampung Sosrowijayan dan Prawirotaman. Dua kampung ini tersohor sebagai sentra nongkrong para turis tak lain karena lokasinya berada di dekat Jalan Malioboro. Di sini juga tersedia berbagai penginapan murah serta kafé dan gerai cenderamata.
Wisata blusukan kampung yang tak kalah menariknya dapat ditemukan di kampung sentra batik lukis Taman Sari. Wisatawan dapat berkelililing di gang-gang kecil nan bersih yang dihiasi arsitektur bangunan lawas Taman Sari yang di masa lalu pernah menjadi tempat pemandian para putri Keraton Yogyakarta.
Sementara kampung "baru" yang tengah berkembang menjadi kunjungan saat ini adalah Kampung Ketandan, yang juga menjadi ruas Malioboro. Kampung ini menjadi pusat perayaan Imlek Kota Yogyakarta tiap tahun sejak Imlek diresmikan pemerintah menjadi hari libur nasional.
Ketua DPRD Provinsi Yogyakarta Youke Indra Agung mengatakan untuk pengembangan wisata di Yogyakarta saat ini DPRD tengah membahas Rancangan Peraturan Darah tentang Wisata Induk Yogyakarta. Dari raperda ini akan diatur sejumlah aturan pengembangan potensi wisata di Yogyakarta agar bisa kompetitif.
“Wisata kampung berpotensi dikembangkan karena sebagian besar turis masih berkunjung di perkotaan,” kata Youke. Padahal, kata dia, ada informasi yang diterimanya turis mancanegara lebih menyukai suasana kampung Yogyakarta ketimbang pergi ke Bali.
“Seharusnya pemerintah juga lebih aktif turun ke kampung, memberi motivasi kepada warga agar mereka menghidupkan wisata budayanya,” kata dia.
PRIBADI WICAKSONO

