indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Satpol PP Akui Membunuh Gadis PNS Minahasa Selatan

Satpol PP Akui Membunuh Gadis PNS Minahasa Selatan

TEMPO/Machfoed Gembong

TEMPO.CO, Manado - WW alias Winsy sudah mengakui membunuh Lindy Mellisa Pandoh, pegawai negeri sipil Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara. "Kami masih terus melakukan pemeriksaan. Tunggu saja perkembangannya," kata Kepala Kepolisian Sektor Urban Malalayang, Komisaris Polisi Andriansyah, Minggu, 22 Januari 2012.

Di hadapan penyidik, Winsy, pegawai honorer Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Minahasa Selatan, menjelaskan ia menghabisi Lindy dengan pisau. Perbuatan Winsy mengakibatkan luka di sejumlah bagian tubuh korban, seperti leher, dada, lengan, dan kaki. Juga terdapat luka gores.

Winsy beralasan membunuh Lindy karena Lindy meminta uang dan beberapa kali meminta pulsa. Hal itu membuat Winsy khilaf dan membunuh korban. Namun Winsy yang saat itu menumpang mobil Lindy membantah memperkosa Lindy.

Sebelumnya Winsy membantah melakukan pembunuhan terhadap Lindy. Winsy berdalih sedang mengganti baju saat tertangkap tangan oleh anggota kepolisian di Tugu Bobocha Malalayang, Kota Manado. Winsy mengatakan kematian Lindy disebabkan oleh salah tikam yang dilakukan dua orang yang mengendarai sepeda motor. Kedua orang itu ingin menikam Winsy. Namun dalih Winsy diragukan polisi.

Lindy, warga Desa Tongkaina, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, ditemukan sudah tak bernyawa oleh warga dan dan aparat Polsek Malalayang, Jumat, 20 Januari 2012, sekitar pukul 17.45 WITA.

Mayat Lindy ditemukan di dalam mobil Avanza warna silver dengan nomor polisi DB 4026 QJ. Mobil itu terparkir di dekat Tugu Boboca, kawasan Pantai Malalayang, perbatasan antara Kota Manado dan Kabupaten Minahasa. Saat ditemukan tubuhnya dalam keadaan telanjang bulat. Di sekujur tubuhnya penuh darah akibat luka tikam. Di dalam mobil tersebut juga ditemukan WW alias Winsy.

ISA ANSHAR JUSUF

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X