Keren, Ponsel Darurat Bisa Menyala Hingga 15 Tahun
Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga
TEMPO/Fully Syafi
TEMPO.CO , Jakarta - Empat buah kue keranjang tidak sewarna itu telah dikemas ke dalam kardus warna merah. Keempat kue itu berwarna hitam, kuning, cokelat, dan hijau, mewakili rasa masing-masing. Hitam berasa original karena hanya diberi pemanis gula merah. Konon inilah rasa asli kue keranjang khas Imlek sejak dari sononya.
Adapun tiga lainnya merupkan rasa kreasi baru. Kuning rasa jeruk, cokelat berpemanis cokelat, dan hijau diberi campuran sari daun pandan. Adalah Tjioe Giok Hong yang mengkreasi kue keranjang itu menjadi beragam rasa. Menurut perempuan 48 tahun ini, kreasi rasa itu ia ciptakan sejak tiga tahun terakhir ini. "Saya mencoba beda, ternyata diterima pasar," kata Tjioe di rumahnya, Jalan Karang Asem XV Surabaya.
Proses pembuatannya, kata dia, seperti kue keranjang pada umumnya. Yakni tepung beras yang dicampur pemanis rasa tertentu lalu direbus. Setelah hampir matang dimasukkan ke dalam gelas sebagai cetakannya. Tjioe membikin dua ukuran kue keranjang, yakni besar dan kecil. Untuk ukuran besar dijual dengan harga Rp 60-70 ribu per bungkus. Satu bungkus terdiri dari empat kue beragam rasa.
Adapun kemasan kecil dijual dengan harga Rp 50-60 ribu. Selain menerima pesanan, Tjioe juga menjual kue keranjangnya di supermarket. Namun ia belum menjajakan ke mal. Alasannya terlalu ribet karena sistemnya titip. Bila tidak laku barang dikembalikan. "Mending nggarap yang pesanan langsung karena mbayarnya jelas," kata dia.
Bila musim Imlek tiba, Tjioe turut ketiban rezeki. Sejak sebulan sebelumnya pesanan mengalir tiada henti. Umumnya pesanan itu datang dari teman-teman Tjioe dan orang-orang yang telah menjadi langganannya, baik yang ada di Surabaya maupun luar kota.
Pada Imlek tahun ini ia menargetkan habis tepung beras 1,5 ton. Target itu berkurang karena pada Imlek-Imlek sebelumnya mampu menghabiskan 2 ton tepung beras. Bahkan sebelum Presiden Abdurrahman Wahid memberi ruang pada perayaan Imlek, Tjioe bisa menghabiskan tepung lebih dari itu. "Kalau sekarang bisa melampaui target ya syukur," kata dia.
KUKUH S WIBOWO

