TEMPO/Dwi Narwoko
Topik
Foto Terkait
Kereta Diesel Purwokerto-Yogya Segera Beroperasi
TEMPO.CO, Purwokerto - Daerah Operasi V Purwokerto tahun ini segera mengoperasikan koridor baru untuk Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) jurusan Purwokerto-Yogyakarta. Kereta api jarak menengah ini diharapkan bisa menjadi moda utama transportasi antarkedua kota yang selama ini didominasi travel dan bus umum.
“Perjalanan akan lebih cepat. Dari Purwokerto ke Yogyakarta atau sebaliknya bisa ditempuh 2,5-3 jam saja,” kata Manajer Humas Daops V Purwokerto, Surono, saat ditemui di kantornya, Selasa 24 Januari 2012.
Surono mengatakan jika harus menggunakan moda transportasi lain waktu tempuh ke Yogyakarta rata-rata mencapai enam jam. Dengan kereta diesel tersebut diharapkan mobilitas penduduk yang tinggi di antara kedua kota bisa terfasilitasi dengan baik.
Rencananya, kata dia, kereta diesel ini akan melayani dua kali perjalanan pulang-pergi. Saat ini pihaknya sedang menyesuaikan jadwal kereta reguler seperti kereta Logawa agar kereta diesel bisa segera beroperasi.
Ia mengatakan waktu tempuh kereta akan semakin pendek jika jalur ganda Purwokerto-Kutoarjo selesai dibangun. Jalur ganda tersebut rencananya akan mulai dibangun secara fisik pada tahun depan. “Kalau jalur ganda selesai, waktu tempuh Purwokerto-Yogyakarta hanya 2 jam,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini pengguna moda transportasi darat baik menggunakan kereta maupun bus paling banyak didominasi pelajar dan mahasiswa. Ia sendiri belum menentukan berapa besaran tiket kereta diesel tersebut.
Jalur ganda Purwokerto-Kutoarjo, kata Surono, saat ini sedang dalam tahap desain. Pembangunannya sendiri diperkirakan akan menemui banyak kesulitan. Selain harus membangun jembatan kereta di atas Sungai Serayu, proyek tersebut harus membangun tiga terowongan baru yang menembus perbukitan di Notog, Kebasen, dan Ijo.
Hary Muktiyono, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, menyambut baik pengoperasian kereta tersebut. “Banyak mahasiswa Purwokerto yang akhir pekan pergi ke Yogyakarta untuk mencari buku kuliah,” katanya.
Hary yang saat ini sedang mengerjakan skripsi mengaku sedikitnya dua kali sebulan pergi ke Yogyakarta untuk mencari buku. Selama ini ia menggunakan kereta ekonomi Logawa untuk pergi ke Yogyakarta. “Semoga tiketnya bisa lebih murah dan disesuaikan dengan kantong mahasiswa,” kata dia menambahkan.
Pendapat senada juga diungkapkan oleh Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno. “Angkutan umum saat ini paling sedikit memakai BBM bersubsidi, hanya sekitar 3 persen. Makanya upaya untuk menambah moda transportasi umum harus didukung,” kata dia.
Djoko menambahkan, pembatasan BBM yang akan diterapkan pemerintah nantinya akan memicu penggunaan sepeda motor. Padahal, kata dia, selama ini pengguna sepeda motor menggunakan sekitar 40 persen BBM bersubsidi.
Selain itu, ia juga meminta pemerintah untuk mengaktifkan kembali jalur lama kereta api Purwokerto-Wonosobo. Pengaktifan kembali jalur itu dinilai akan membawa efek domino ekonomi kawasan Jawa Tengah bagian tengah. “Terutama dari penumpang dan barang yang saat ini cukup tinggi trafiknya,” katanya.
Selain kereta penumpang, jalur tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk perjalanan kereta wisata. Sebab, kata dia, rel kereta yang melintas Banjarnegara-Wonosobo cukup bagus pemandangan alamnya.
Dari studi yang dilakukannya, untuk merevitalisasi jalur yang sudah tidak aktif selama 25 tahun itu dibutuhkan dana sekitar Rp 1,5-2 triliun untuk rel sepanjang 92 kilometer. Dana tersebut jauh lebih hemat dibandingkan untuk pembangunan jalan tol Semarang-Solo sepanjang 80 kilometer dengan dana Rp 8-9 triliun.
Belum lagi, kata dia, pembangunan jalan tol hanya akan mengurangi hutan, mengurangi kawasan resapan, dan menutup sumber mata air. Selain itu pembangunan tol juga menambah konsumsi BBM dan menambah volume kendaraan bermotor.
ARIS ANDRIANTO





