indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Harga Sawit Sumatera Selatan Naik

Harga Sawit Sumatera Selatan Naik

Dua pekerja PT. Perkebunan Nusantara XIII menyortir kelapa sawit yang baru dipanen di Lorong Pinang, Paser, Kaltim (28/9). Pengolahan kelapa sawit ini mampu memproduksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 60 ton per-jam. TEMPO/Ayu Ambong

TEMPO.CO, Palembang - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Selatan naik pekan ini. Kenaikan harga ini diharapkan membawa angin segar bagi petani dan pengusaha sawit setempat.

Data Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan menyebutkan pekan ini harga sawit mencapai Rp 1.552 per kilogram TBS. Adapun pekan lalu sebesar Rp 1.512 per kilogram TBS.

Menurut Minarsih, Kepala Bidang Pemasaran dan Pengolahan Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, kenaikan harga ini merupakan hasil kesepakatan antara pemerintah dan pelaku usaha sawit. Kenaikan harga juga dilakukan demi menyesuaikan dengan harga patokan minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) di luar negeri. "Sebabnya sebagian besar hasil perkebunan itu untuk dijual ke luar negeri," kata dia di kantornya, Selasa 24 Januari 2012.

Di tingkat petani kenaikan harga sawit mencapai Rp 100 per kilogram TBS. Saat ini harga yang diterima petani mencapai Rp 1.100 hingga Rp 1.150 per kilogram TBS. "Lumayan untuk menutupi biaya produksi," kata Badaruddin Hamid, seorang petani sawit di Pangkalan Balai. Ia juga berharap harga buah sawit terus membaik, minimal mendekati Rp 2.000 per kilogram TBS.

Di Sumatera Selatan terdapat sejumlah sentra perkebunan sawit. Di antaranya di Kabupaten Muaraenim, Lahat, Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin dan Banyuasin, serta Kabupaten Musirawas. Luas perkebunan mencapai 600 ribu hektare. Sebagian besar areal tersebut dikelola oleh perusahaan perkebunan swasta nasional dan asing, selebihnya digarap petani tradisional.

PARLIZA HENDRAWAN




Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X