foto

Anggota TNI menjaga pintu masuk ke Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, Rabu (25/1) setelah sehari sebelumnya terjadi kerusuhan yang mengakibatkan puluhan rumah terbakar. ANTARA/Triono Subagyo

Pascabentrok, Lampung Selatan Masih Mencekam  

TEMPO.CO, Lampung - Usai bentrokan antarwarga, situasi keamanan di Lampung Selatan pada Rabu, 25 Januari 2012 masih mencekam. Warga masih berjaga-jaga sambil membawa pelbagai senjata di sejumlah titik di Kecamatan Sidomulyo. Beberapa tempat fasilitas umum seperti pasar, sekolah, dan sejumlah kantor pemerintahan di kecamatan itu masih tutup.

Sebanyak 1.500 personel gabungan dari Polri, TNI Angkatan Darat, Marinir dan Angkatan Laut juga masih berjaga-jaga di sejumlah tempat. Mereka mencoba menghadang pergerakan massa dari kedua belah pihak yang bertikai.

"Sebanyak satu kompi dari Brigade Mobil Daerah Banten juga sudah datang. Mereka berjaga-jaga di Kecamatan Ketapang," kata Kepala Polda Lampung Brigadir Jenderal Jodie Rooseto.

Sejumlah aparat kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara. Mereka memasang garis polisi di 60 rumah yang hangus terbakar dan 23 unit rumah milik warga yang hancur diamuk massa sehari sebelumnya. Konsentrasi massa dalam kelompok kecil juga masih berjaga-jaga di Desa Kota Dalam dan tepi Jalan Lintas Sumatera.

Saat ini upaya perdamaian tengah dilakukan di kantor Gubernur Lampung. Pertemuan itu dihadiri oleh tokoh Parisade Hindu Bali Lampung, tokoh adat Lampung, dan perwakilan suku yang ada di Lampung. Mediasi yang berlangsung tertutup itu dipimpin langsung oleh Gubernur Lampung Sjachroedin Zainal Abidin Pagaralam.

Bentrokan antarwarga di Kecamatan Sidomulyo dipicu oleh keributan antara preman di Pasar Sidomulyo pada Minggu malam, 22 Januari 2012. Keributan itu terus memanas meski upaya perdamaian sudah dilakukan oleh aparat keamanan di Markas Polres Lampung Selatan.

"Kedua belah pihak sama-sama ikhlas berdamai. Tapi keesokan harinya, ratusan warga Napal menyerbu Desa Kota Dalam," kata Bupati Lampung Selatan Rycko Menoza.

Dalam aksi itu, warga Dusun Napal yang mayoritas adalah warga asal Bali melukai dua orang warga yang tengah bekerja di ladang. Isu itu kemudian membuat warga Desa Dalam membalas. Mereka lalu membakar seluruh rumah milik warga Dusun Napal.

Rycko menegaskan bentrok itu bukan masalah agama dan suku. Kerusuhan murni dipicu oleh persoalan keributan sepele. "Tidak ada tempat ibadah atau pura yang dibakar dan dirusak," katanya.

Saat kerusuhan terlihat warga hanya menyasar rumah dan tidak menyentuh pura milik warga Bali.

NUROCHMAN ARRAZIE