foto

Tim Pusat Laboratorium dan Forensik Mabes Polri melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di lokasi kecelakaan maut di Jalan Ridwan Rais, Kawasan Tugu Tani, Gambir, Jakarta, Selasa (24/1). Di kejauhan tampak warga menyemut untuk menyaksikan proses olah TKP. Tempo/Tony Hartawan

Mau Aman Nyetir? Jangan Minum Alkohol Sama Sekali  

TEMPO.CO, Jakarta - Minggu, 22 Januari 2012 pagi lalu, yang semestinya menyenangkan karena banyak orang baru pulang berolahraga, berubah menjadi situasi penuh jerit tangis dan muncratan darah. Sebuah mobil Daihatsu Xenia hitam,yang diduga berkecepatan tinggi tiba-tiba saja menerjang trotoar dan menghajar sejumlah pejalan kaki di Jalan M.I. Ridwan Rais, Jakarta Pusat. Sembilan pejalan kaki tewas dan beberapa lainnya luka-luka.

Hasil tes urine yang dilakukan terhadap Afriani Susanti, 29 tahun, pengemudi mobil itu, memastikan bahwa saat itu dia tengah dalam pengaruh narkotik. Tak perlu diuji, sebelumnya Afriani juga mengaku telah menenggak minuman beralkohol jenis wiski. Pagi itu dia belum sempat tidur setelah pesta semalaman di tempat hiburan setelah sebelumnya menghadiri pesta ulang tahun temannya di sebuah hotel.

Tapi ini bukan soal belum tidur. Pun tak perlu terlalu jauh hingga membahas pengaruh methamphetamine atau sabu. Berkendara setelah minum minuman beralkohol sekalipun sangat tidak dianjurkan. "Efeknya bisa mengacaukan konsentrasi, menimbulkan halusinasi, hingga menimbulkan efek jarak pandang yang berbeda dibanding kenyataan," kata Dadang Hawari, profesor di bidang psikiatri, Senin, 23 Januari 2012.

Sejumlah situs kesehatan dan keselamatan berkendara juga menyebutkan bahwa reaksi si pengemudi menjadi lambat atau malah berlebihan. Di Amerika Serikat, misalnya, hampir 30 mobil mengalami kecelakaan setiap hari gara-gara pengemudinya mabuk. Angka kematian terjadi setiap 48 menit.

Seperti dituturkan Dadang, batas kadar alkohol yang aman untuk seseorang yang berada di balik kemudi memang relatif. Ada faktor bobot tubuh si pengemudi, gender, usia, metabolisme dalam tubuhnya, tingkat stres, kondisi perut apakah sudah terisi (makan), dan jumlah minuman beralkohol yang ditenggaknya.

Di Inggris berlaku yang namanya legal driving limit. Angkanya ditetapkan 80 miligram per 100 mililiter darah. Sekadar dua gelas kecil minuman anggur saat makan siang sudah cukup untuk membuat kadar alkohol dalam darah itu menyentuh batas yang ditentukan beberapa jam sesudahnya.

Atau ada juga satuan 21-28 unit batasan mingguan. Unit bisa bervariasi berdasarkan gelas anggur yang kecil atau jenis lain seperti gelas bir yang besar.

Tapi, apa pun patokannya, Departemen Transportasi setempat telah memastikan hanya satu rekomendasi agar pengendara selamat. Dan itu adalah tidak minum alkohol sama sekali.

SUNDARI | PINGIT ARIA | WURAGIL



 



Berita Terkait
Menu ''Dugem'' Pengemudi Xenia Maut Cs
Niatnya Injak Rem, Sopir Xenia Maut Malah Injak Gas
9 Kasus Tabrak Maut Akibat Sopir Mabuk  
Pasca Tabrak Maut, Polisi Wajib Razia Pengemudi Mabuk 
Diperiksa Polisi, Sopir Xenia Masih Geleng-geleng
Sopir Xenia Maut Cs Beli Ekstasi Rp 600 Ribu
Inilah Olah TKP Tabrakan Maut di Tugu Tani