foto

Elano Gantiano. TEMPO/Gunawan Wicaksono

Elano dan Garis Zebra  

TEMPO.CO, Yogyakarta - Perupa nyentrik, Elano Gantiano, menggelar pameran tunggal perdananya di Kersan Art Studio, Yogyakarta. Pameran bertajuk “la vie art and happy happy art” itu akan berlangsung hingga 24 Februari mendatang.

Elano, yang dalam kesehariannya selalu menggantungkan puluhan kalung etnik di lehernya, menampilkan karya-karya yang mencoba memotret lika-liku rekan-rekannya sesama seniman. Ia mengaku risih jika melihat rekannya seniman tampak tertekan dalam proses produksi karyanya.

“Tekanan itu datang karena mereka berpikir apa karya yang dibuatnya itu nantinya akan laku di pasar, dibeli kolektor dengan harga mahal. Kenapa peduli?” kata Elano.

Kejengkelan Elano itu dituangkan dalam satu karyanya yang berjudul “You and Me=Fantasme” (acryllic on canvas, 2011). Dalam karya itu tergambar seseorang sedang menunjuk dengan jari muka orang di sebelahnya. Elano tak segan menuding (mengingatkan) rekan seniman seperjuangannya, khususnya yang muda, untuk tak melibatkan kalkulasi ekonomis dalam proses kreatifnya. Fantasi, menurut Elano, adalah satu-satunya pokok yang perlu dijaga karena itu modal kelangsungan hidup kesenimanan.

Kejengkelan lain yang dirasakan lelaki yang pernah menjadi wartawan lepas di majalah budaya Archipelago itu adalah kuatnya tekanan dari pasar dan kolektor kian mendominasi proses kreatif seorang seniman. Akibatnya, banyak karya seni akhirnya lahir prematur, asal mengikuti tren pasar atau minat kolektor. Identitas dan orisinalitas yang seharusnya dipanggul sang seniman tinggi-tinggi pun akhirnya roboh. Hal itu ia tuangkan lewat karya “Selecta Kapita Pop Art” (mix media, 2011).

Tapi, 50 karya Elano yang dipamerkan tak melulu sinis. Beberapa karya di antaranya secara jujur mengungkapkan kesalutannya kepada rekan-rekannya sesama seniman yang masih kukuh dalam proses dan menciptakan sesuatu yang tetap orisinil meski dikepung berbagai godaan dan tekanan. Hal itu seperti tergambar dalam karya “Beautiful Art”.

Semua karya Elano didominasi dengan komposisi garis mirip corak Zebra yang menonjol sebagai cirinya. Kurator Yoyok Widodo dalam pengantar pameran mengatakan, garis zebra dalam karya Elano merupakan energi dasar kekaryaannya. Memahami karya Elano membutuhkan semacam dua kali atau lebih proses, yakni menyingkap garis–garis itu lalu menemukan sosok dan cerita di baliknya. “Yang inti itu selalu tersembunyi dan baru terlihat jelas ketika ada kesabaran menjalani prosesnya,” katanya.

PRIBADI WICAKSONO