foto

Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat (kanan) didampingi Ketua Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia (Muhsin) Daud Poliraja (kiri) memberikan keterangan terkait dengan penyerangan pesantren Syiah di sampang beberapa waktu lalu, Jakarta, Sabtu (31/12). ANTARA/M Agung Rajasa

Diusir Warga Garut, Polisi Lindungi Penganut Syiah

TEMPO.CO, Garut - Kepolisian Resort Garut, Jawa Barat, melindungi 19 penganut ajaran Islam Syiah di Desa Margaluyu, Kecamatan Cikajang. Polisi memboyong warga Syiah itu ke Markas Kepolisian Resort Garut di Jalan Sudirman, Karangpawitan, karena merasa terancam oleh warga setempat.

“Pengamanan ini sengaja kami lakukan untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan,” ujar Kepala Kepolisian Resort Garut, Ajun Komisaris Besar Polisi Enjang Hasan Kurnia, kepada Tempo, Jumat, 27 Januari 2012. Apalagi, katanya, tindakan perlindungan itu atas permintaan penganut Syiah.

Menurut dia, perselisihan ini akibat warga setempat tersinggung atas tindakan penganut Syiah ketika berlangsung salat Jumat pada 20 Januari lalu. Saat khotib khotbah, semua penganut Syiah meninggalkan masjid. Jemaah lain kaget. Warga menilai kepergian warga Syiah itu dipicu isi khotbah Jumat. Karena ingin kejelasan, sejumlah warga mendatangi penganut ajaran Syiah. “Warga merasa tersinggung mau melakukan konfrontasi dengan tujuan menanyakan dulu,” ujar Enjang.

Namun kedatangan warga ini dianggap sebagai ancaman oleh panganut Syiah. Mereka langsung mendatangi Kantor Kepolisian Sektor Cikajang untuk meminta perlindungan. Karena takut terjadi pertikaian yang lebih besar, warga Syiah pun diboyong ke Markas Kepolisian Resort Garut.

Untuk meredam pertikaian ini, lanjut Enjang, pihaknya telah berupaya melakukan mediasi dengan warga. Bahkan dialog pun digelar antara warga dan jajaran musyawah pimpinan kecamatan hingga Jumat dini hari tadi. “Hasilnya belum 100 persen tapi sudah ada kesepakatan untuk menjaga Garut kondusif, seluruh warga Syiah sudah kami kembalikan ke rumah masing-masing tadi pagi,” ujar Enjang.

Perselisihan warga Syiah ini bukan yang pertama kali terjadi. Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, dalam tiga tahun terakhir ini telah terjadi dua kali perselisihan antara penganut Syiah dan warga setempat. Pemicunya diduga karena berbeda pandangan dalam memahami ajaran Islam.

SIGIT ZULMIR