Keren, Ponsel Darurat Bisa Menyala Hingga 15 Tahun
Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga
Penumpang memasuki pesawat saat hujan deras sore hari di bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. TEMPO/Suryo Wibowo
TEMPO.CO, Yogyakarta - Kemajuan sektor pariwisata di wilayah Yogyakarta sangat tergantung pada daya dukung transportasi udaranya. Persoalannya, saat ini Bandara Adistujipto Yogyakarta masih sangat terbatas dalam kapasitas penumpang dan waktu operasionalnya, sehingga tak mampu mendukung industri pariwisata secara maksimal.
Padahal, di satu sisi, pertumbuhan industri hotel dan penginapan di Yogyakarta tiap tahun terus meningkat. "Pada 2015 diprediksi hunian yang ada mencapai kapasitas 8.000 kamar. Ini tak sebanding dengan kondisi bandara saat ini," kata Ketua Asosiasi Tour dan Travel Indonesia (ASITA) Daerah Istimewa Yogyakarta, Edwin Ismedi Himna.
Edwin mengatakan hal itu saat menghadiri public hearing penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Pengembangan Induk Pariwisata di Gedung DPRD DI Yogyakarta, Jumat 27 Januari 2012.
Kapasitas bandara Yogyakarta dinilai tak layak lagi menampung kedatangan wisatawan yang semakin meningkat itu. Pelaku industri wisata Yogya juga mengaku bingung dengan rencana pemerintah terkait dengan pemindahan bandara yang ada di wilayah Kabupaten Sleman ke Kabupayen Kulonprogo. ”Rencana itu masih teka-teki buat kami, sebenarnya jadi atau tidak,” kata dia.
Karena tak jua jelas, pelaku wisata mendesak dipakai opsi alternatif seperti membuka jalur penerbangan malam hari agar mampu meningkatkan hunian kamar di hotel ataupun penginapan.
Hal itu dianggap paling realistis. Sebab apabila ke depan akses penerbangan masih dibuka hanya pagi hari, tak akan berefek optimal pada industri wisata. Kecenderungan agen travel saat ini hanya mengirim wisatawan ke Yogyakarta pagi hari. Sorenya wisatawan langsung terbang ke Bali. ”Jadi kami tak dapat apa-apa. Mereka hanya beli karcis parkir saja di sini. Jadi jalur malam itu sangat perlu dicoba,” kata dia.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata DI Yogyakarta M. Tazbir mengakui bahwa daya dukung Bandara Adisutjipto saat ini masih terbatas dengan operasional dan kapasitasnya. Tazbir juga menyebut sebagai bandara bertaraf internasional, fasilitas Adisucipto seperti di bagian kedatangan internasional sangat tidak layak bahkan cenderung memalukan.
“Orang antre kepanasan dan kedinginan di luar. Kalau ada dua penerbangan datang bersamaan dari Singapura sudah nggak mampu kita,” kata dia. Pihaknya meminta agar Bandara segera direnovasi, berupa perluasan ruangan untuk menampung orang yang berangkat dan datang. Untuk sementara penting segera menginventarisasi berapa airline yang nantinya bisa terbang malam.
Sementara itu Anggota Panitia Khusus Raperda Rencana Pengembangan Induk Pariwisata Daerah Nur Sasmita mengatakan kondisi infrastruktur bandara memang belum mendukung pengembangan industri pariwisata di Yogyakarta.
”Mestinya kalau Raperda sudah jadi aturan, hal itu harus jadi arahan. Mau tidak mau harus melakukan perbaikan infrastruktur,” kata dia. Pembahasan Raperda Pariwisata ini ditargetkan selesai Februari 2012.
PRIBADI WICAKSONO

