foto

TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Konversi BBM ke BBG Diakui Telat

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah berencana melakukan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) sebagai salah satu solusi untuk mengendalikan konsumsi BBM bersubsidi. Namun langkah ini perlu proses dan memakan waktu lama.

"Diversifikasi ke gas ini memang terdapat kendala, tapi kita harus dorong dari sekarang agar terbiasa dengan gas," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi VII (Energi) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Senin, 30 Januari 2012.

Wacik membandingkan proses pembangunan infrastruktur BBG di negara tetangga, Malaysia, yang memerlukan waktu selama belasan tahun hingga bisa digunakan secara massal. "Mereka mulai dari 1992 dengan 2.000 kendaraan, dan pada 2009 mencapai 42 ribu kendaraan. Butuh 17 tahun, sementara kita baru mulai saat ini," kata dia.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo juga membandingkan pengembangan BBG di negara lain, seperti Jepang, Italia, Korea Selatan, Australia, dan lainnya. "Italia itu mulai pengembangan BBG jenis CNG sejak tahun 1930," tuturnya.

Bahkan negara seperti Iran dan Pakistan pun mengembangkan penggunaan BBG ini sejak 1998. Contoh terdekat dan paling sukses dalam pengembangan bahan bakar gas jenis Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquified Gas for Vehicles (LGV) adalah Thailand sejak tahun 2001.

Pengguna LGV di Thailand kini telah mencapai 473 ribu kendaraan, sementara CNG mencapai 218.459 kendaraan. "Mereka mulai dari CNG dengan 100 kendaraan terlebih dahulu," ujarnya.

CNG adalah gas bertekanan tinggi. BBG jenis ini rencananya akan diarahkan untuk digunakan oleh kendaraan umum karena harganya lebih terjangkau, yaitu Rp 3.100 per liter, setara Premium. Sementara itu, LGV, gas dalam bentuk cair dan direncanakan digunakan oleh pemilik kendaraan pribadi. Rata-rata harga jual LGV di Indonesia saat ini berada di angka Rp 5.600 per liter.

GUSTIDHA BUDIARTIE