foto

Para aktivis memegang papan saat aksi protes menentang hasil pemilu di Vladivostok, Rusia (24/12). REUTERS/Yuri Maltsev

Inggris Lanjutkan Investigasi Tewasnya Intelijen Rusia

TEMPO.CO :- Pejabat yang menangani kasus pembunuhan intelijen Rusia, Alexander Litvinenko, meminta intelijen Inggris, M15 dan M15, menyerahkan dokumen rahasia tentang dugaan mereka atas jaringan pembunuh Litvinenko yang tewas diracun zat radioaktif polonium pada 2006.

Permintaan itu diajukan oleh Dr Andrew Reid dari kantor pemeriksaan forensik St. Pancras Coroner. Reid yang memimpin pemeriksaan forensik kematian Litvinenko. Dia setuju untuk mempertimbangkan dugaan Litvinenko dibunuh karena ia berbicara kritis tentang Vladimir Putin--saat ini Perdana Menteri Rusia.

Dokumen ini akan menjadi bukti atas investigasi yang sedang dilakukan tentang dugaan mata-mata Rusia ini dibunuh oleh pemerintah Rusia saat ia bekerja di lembaga keamanan Inggris.

Pernyataan awal lembaga forensik yang diungkap oleh The Mail juga membuat pihak keamanan takut. Sumber di pemerintahan mengungkapkan pekan lalu bahwa pemeriksaan forensik telah dimulai untuk menemukan cara terbaik mendapatkan semua bukti terkait.

Istri Litvinenko, Marina, kemarin mengatakan bahwa suaminya, yang bekerja untuk M15 dan M16, mendapat bayaran puluhan ribu pound sterling. Uang digunakan untuk memberantas geng kriminal di Eropa. Ia menginginkan investigasi dilakukan untuk semua kegiatan yang mengarahkan pada apa yang disebutnya “eksekusi yang disponsori pemerintah Rusia.”

Sebelumnya, Marina membantah tudingan bahwa suaminya ada hubungan dengan dua lembaga intelijen Inggris itu. Litvinenko, saat itu berusia 43 tahun, menderita kesakitan setelah meminum teh dalam pertemuan dengan mantan agen intelijen Rusia, KGB, di satu hotel di London. Ia tewas di rumah sakit University College Hospital.

Kasus kematian Litvinenko dan penolakan Rusia mengirim tersangka utama, mantan agen KGB, Andrei Lugovoi, untuk diadili di Inggris telah mengganggu hubungan Moskow dan London.

Namun Reid menegaskan bahwa keinginan publik menuntut investigasi atas dugaan pemerintah Rusia terlibal dalam kejahatan ini.


DAILY MAIL | MARIA RITA

Berita Terpopuler
Ada Unsur Kesengajaan dalam Kasus Xenia Maut

Bertelanjang Dada, Tiga Wanita ''Serbu'' Forum Davos 

Miranda Goeltom Diminta Kembalikan Gaji 

AS Akui Bin Ladin Terendus Berkat Seorang Dokter

Empat Kali Miranda Goeltom Menangis 

Simbol KTP Seumur Hidup bagi Pemerkosa

Rok Pendek Zaskia Sungkar Diprotes 

Polisi: Korban Perkosaan ''di Angkot D01'' Berbohong 

Tabrakan Jazz, ABG Pengemudi Rupanya Curi Kunci 

Persib Vs Persija, Ribuan Bobotoh Serbu Stadion