Reuters/Toru Hanai
Topik
S&P Turunkan Peringkat Utang NEC
TEMPO.CO, Tokyo - Standard & Poor''s menurunkan peringkat kredit perusahaan elektronik raksasa asal Jepang, NEC, pekan lalu. Setelah pengumuman tersebut, akan ada ribuan pegawai yang kehilangan pekerjaan.
Lembaga pemeringkat tersebut mengatakan telah menurunkan peringkat utang jangka panjang perusahaan tersebut menjadi BBB-. Sementara utang jangka pendek diturunkan menjadi A-3 karena lambatnya peningkatan keuntungan NEC. "Dasar penetapan penurunan peringkat didasari pandangan kami bahwa ada kemungkinan pemulihan kesehatan keuangan perusahaan ke tingkat yang sepadan dengan rating jangka panjang yang sebelumnya BBB lebih awal," kata S&P dalam siaran pers yang dirilis, Selasa, 31 Januari 2012.
"Tapi, di tengah lingkungan bisnis yang semakin sulit, keuntungan NEC pulih lebih lambat dari yang kami asumsikan. Keuangan perusahaan cenderung akan memburuk karena melakukan reformasi struktural yang mahal."
Pada Kamis, NEC mengatakan akan memangkas 10 ribu pekerjaan di seluruh dunia atau sekitar 8,6 persen dari angkatan kerja. Sebanyak 7 ribu pekerjaan di antaranya berada di Jepang dan 3 ribu di negara lain. Sebab, saat pengumuman kinerja pada kuartal ketiga, perusahaan sudah kehilangan lebih dari satu miliar dolar selama tahun fiskal ini.
NEC adalah perusahaan elektronik asal Jepang yang paling merasakan tekanan bisnis karena kelebihan kapasitas dan persaingan saat menguatnya yen. Pengumuman adanya pemangkasan pekerjaan, yang sebelumnya tidak terpikirkan pada negara dengan budaya "pekerjaan seumur hidup", semakin menjadi umum.
Perusahaan mengataan kerugian karena pengurangan lapangan kerja akan memakan biaya 40 miliar yen (US$ 510 juta) pada tahun fiskal ini. Tapi, diharapkan akan dapat menghasilkan penghematan yang lebih besar dalam dua tahun mendatang.
Perusahaan mencatat kerugian bersih 97,5 miliar yen (US$ 1,25 miliar) untuk sembilan bulan hingga Desember. Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sebelumnya. Proyeksi kerugian pada tahun fiskal kali ini mencapai 100 miliar yen.
AFP | BUSINESS JOURNAL | EKA UTAMI APRILIA





