Evita Legowo. TEMPO/Arnold Simanjuntak
Topik
Pemerintah Tetap Impor Alat Konversi
TEMPO.CO, Jakarta -Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap mendatangkan 2.500 converter kit (alat konversi) meski pembatasan bahan bakar minyak terancam gagal. Alat konversi ini ditargetkan untuk menyukseskan program pengalihan bahan bakar dari minyak ke gas jenis CNG (Compressed Natural Gas) maupun LGV (Liquid Gas for Vehicle).
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo mengatakan, pemenuhan converter kit itu akan dipasok dari impor maupun produksi dalam negeri. Pemerintah menetapkan pasokan dari impor sebanyak 2.000 alat dan domestik sebanyak 500 alat.
Pelaksanaan diversifikasi BBM ke gas, pemerintah menyiapkan dua jenis bahan bakar gas yakni CNG dan LGV. CNG ditujukan untuk angkutan umum perkotaan di daerah yang tersedia sumber gas alam dan infrastruktur penyaluran. LGV ditujukan untuk angkutan umum di daerah yang tidak tersedia CNG, angkutan umum eksekutif serta untuk kendaraan pribadi. Untuk angkutan umum, converter kit CNG dan LGV akan diberikan secara gratis.
Dia menjelaskan, pemasangan converter kita pada kendaraan harus sesuai jenis kendaraannya. Tidak hanya itu, converter kita juga harus disertifikasi terlebih dahulu agar aman. "Kendaraan itu kan ada dua jenis yaitu karburator dan injeksi. Masing-masing jenis kendaraan ini harus ada sertifikasi dulu dan pengecekan," katanya.
Evita menyebutkan beberapa persyaratan bagi kendaraan yang akan beralih ke BBG diantaranya jenis gas harus sesuai spesifikasi kendaraan, bengkel yang memasang harus yang memiliki sertifikat. Kemudian, teknisi yang memasang alat konversi itu harus berpengalaman dan mendapat sertifikat. Converter kita yang digunakan juga harus sesuai standar nasional maupun internasional yang disetujui.
Sesuai aturan dalam undang-undang, pemerintah harus melakukan diversifikasi energi dan mengurangi pemanfaatan minyak bumi. Ada tiga paradigma yang harus dilaksanakan oleh pemerintah, yakni pergeseran pembangunan dari Indonesia bagian Barat menjadi pembangunan Indonesia bagian Timur. Lalu, pemanfaatan hasil dan optimalisasi potensi sumber daya di darat menjadi pemanfaatan potensi sumber daya laut. Terakhir, diversifikasi penggunaan energi dari minyak bumi ke gas.
"Kalau diversifikasi tidak dilakukan, nanti kebutuhan energi tidak bisa terpenuhi karena minyak bumi cadangannya menurun tapi gas produksinya meningkat," ujar Evita di Jakarta, Selasa, 31 Januari 2012.
Sebagai persiapan program diversifikasi energi dari BBM ke BBG jenis CNG, sudah tersedia 26,1 MMSCFD untuk wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Dan Jawa Timur sudah tersedia 6,7 MMSCFD.
Sedangkan untuk diversifikasi BBM ke LGV di Jawa-Bali pada 2012 diperlukan 681 ribu metric ton per hari. Saat ini, di Jawa-Bali sudah tersedia SPBG CNG sebanyak delapan di DKI Jakarta dan satu di Surabaya. Lalu untuk SPBLGV sudah tersedia 10 di DKI Jakarta.
Tambahan SPBG, lanjut Evita, akan dibangun sebanyak 4 buah yang tersebar di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. "Keempatnya ini harus terangun paling lambat Desember 2012. Kami akan minta BUMN juga yakni Pertamina untuk bangun SPBG," ujarnya.
ROSALINA





