Hatta Rajasa. TEMPO/Aditia Noviansyah
Topik
Foto Terkait
Hatta: Tolak Sawit, Amerika Hambat Perdagangan
TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan penolakan produk minyak sawit menatah (CPO) oleh Amerika Serikat sebagai hambatan teknis (technical barrier). Penolakan seperti ini tidak dibenarkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
"Oleh sebab itu, kita harus memberikan pejelasan. KADIN, APINDO, Pengusaha, Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit, termasuk pemerintah dalam hal ini Menteri Pertanian harus menjelaskan," kata dia di Istana Negara, Selasa 31 Januari 2012.
Hatta optimistis penjelasan secara ilmiah bisa mematahkan aneka penolakan CPO. "Sudah dua kali sawit dihantam, baik di Eropa atau negara lain. Dan itu bisa kami patahkan sepanjang ada objektivitas dalam penjelasan itu," kata Hatta.
Ketika ditanya soal motif di balik penolakan tersebut, ia mengaku tidak mengetahuinya. Hatta berharap, AS bersikap jujur mengungkapkan alasan di balik penolakan minyak sawit dan turunannya asal Indonesia.
Penolakan produk minyak sawit berlaku per 28 Januari 2012. Alasan Amerika Serikat seperti yang diutarakan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, minyak sawit Indonesia tidak ramah lingkungan. "Notifikasinya sudah saya terima. Kami diberi waktu hingga 27 Februari mendatang untuk membantah. Kami minta pihak-pihak terkait untuk segera melakukan bantahan," kata dia.
Dia mengatakan, keputusan Amerika Serikat tersebut diambil setelah mereka menerima pengaduan Noda EPA, yakni otoritas setempat yang concern pada persoalan lingkungan hidup," katanya.
Hatta pun mengaku tidak tahu alasan AS menyatakan sumber minyak sawit mentah Indonesia tidak ramah lingkungan. "Dasarnya apa? Wong jelas-jelas seluruh biodiesel itu tidak mengandung emisi karbon. Tidak ramah lingkungan dimananya? Nah inilah yang harus dijelaskan secara scientific secara jelas biar diargumentasi kita itu kuat," kata dia.
ARYANI KRISTANTI





