Mantan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda S. Goeltom sebelum menjalani pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Selasa (10/01).. TEMPO/Seto Wardhana.
Infografis
Foto Terkait
Begini Seabrek Kegiatan Miranda Goeltom
TEMPO.CO , Jakarta: Meski kariernya di Bank Indonesia telah usai, bukan Miranda Swaray Goeltom namanya kalau tidak sibuk dengan seabrek kegiatan. Satu kesibukan Miranda berhubungan dengan dunia pendidikan, yakni mengajar di kelas internasional berbahasa Inggris serta mata kuliah bank sentral di Universitas Indonesia.
Masih seputar dunia pendidikan, Guru Besar Universitas Indonesia itu juga kerap menjadi promotor untuk calon doktor di Universitas Gadjah Mada, Universitas Airlangga, Universitas Padjadjaran, dan pastinya Universitas Indonesia.
"Saya cinta mengajar. Selama saya masih bisa mengajar, itu menyenangkan sekali,"
kata Miranda ketika Tempo bertandang ke kediamannya, Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, Jumat, 27 Januari 2012.
Di dunia seni, kegiatan perempuan 62 tahun itu lebih menggila lagi. Dalam satu waktu, dia bergabung di tiga yayasan kesenian, bahkan menempati posisi ketua. Yayasan pertama yang diayominya adalah Himpunan Keramik Indonesia. Sejak 1980-an, Miranda muda bergabung dengan HKI dan belajar tentang sejarah keramik antik.
"Tiga tahun pertama saya belajar motif, cara pembuatan, dan sejarah keramik berdasar motif dan dinasti Cina," ujarnya.
Kini Miranda telah menjabat sebagai Ketua Penasehat di HKI. Koleksi pribadi keramiknya sendiri telah beragam dan dari berbagai abad. "Keramik yang ini dibuat abad ke-17, lalu yang itu abad ke-15, dan yang satu di sana dari abad ke-13," kata Miranda seraya memamerkan sebagian kecil koleksi keramiknya.
Ibu dua anak itu juga sibuk mengelola kelompok pemusik klasik, Nusantara Symphony Orchestra. Miranda bergabung dengan orkestra ini karena kecintaannya pada musik klasik. Bahkan dia sempat berlatih piano selama tujuh tahun. Pada 1999, Miranda duduk sebagai ketua 1 dan mulai menjabat ketua umum sejak 2003.
"Saya pernah membawa orkestra ini tampil di Osaka dan Tokyo," katanya. Dari 70 pemusik, lanjut Miranda, 34 orang di antara merupakan pemusik tetap. "Mereka berlatih seminggu tiga kali dan digaji tiap bulan," cerita Miranda.
Kesibukan Miranda belum habis di sana. Lulusan Universitas Boston itu juga berkecimpung di Yayasan Seni Rupa. Yayasan yang dipimpin langsung oleh Miranda ini telah melanglang dunia untuk mengikuti beragam pameran lukisan. Misalnya Pameran Seni Lukis Kontemporer Indonesia di Moskow, Rusia, tahun 2000; Pameran Seni Lukis Modern Indonesia di Madrid, Spanyol, pada 2001; Pameran Seni Lukis Indonesia di Beijing dan Shanghai, Cina, pada 2003; dan Pameran Seni Rupa Dua Dimensional di Berlin, Jerman, tahun 2004.
"Saya memang pelestari kesenian dan budaya. Barang koleksi, saya taruh di rumah ini," kata dia.
Di antara kesibukannya itu, Miranda masih sempat bermain dengan kedua cucu kembarnya, Sennah dan Jasmin, yang berusia 1 tahun 3 bulan. Terkadang si nenek juga menyempatkan diri untuk mengantar mereka ke taman bermain atau pre-school.
"Mereka yang saya pikirkan kalau ada apa-apa dengan saya," kata Miranda kala menggendong si kembar.
CORNILA DESYANA
Berita Terkait
Anak Miranda Berteman dengan Anak Nunun
Miranda Goeltom Ternyata Pecandu Makanan
Cara Miranda Mengukur ''Persahabatan'' dengan Nunun
Asal Usul Rambut Ungu Miranda
Eksklusif Miranda: Tersangka Belum Tentu Bersalah
Miranda Goeltom Diminta Kembalikan Gaji





