foto

Tsunami Buoy. TEMPO/Wahyu Setiawan

Kerja Alat Deteksi Tsunami ala Penjual Lontong  

TEMPO.CO, Bengkulu - Pedagang lontong sayur di Bengkulu, Dodi Marten, 39 tahun, menciptakan alat deteksi dini tsunami otomatis secara sederhana. Mekanisme kerja alat temuan Dodi itu terinspirasi dari kerja lonceng bila digoyang, yang ia pelajari ketika masih duduk di bangku SMA.

“Awalnya saya berpikir menciptakan alat deteksi tsunami dari beberapa kaleng susu yang disusun sedemikian rupa. Saya berpikir, kalau terjadi goyangan gempa kuat yang berpotensi tsunami, kaleng-kaleng tersebut akan mengeluarkan bunyi layaknya lonceng,” ujarnya sambil menghidangkan kopi kepada tamu di warungnya, Rabu, 1 Februari 2012.

Namun ide awal tersebut ternyata tidak efektif dan efisien karena hasil suara dari kaleng sebagai peringatan mungkin hanya dapat didengar oleh dia dan keluarganya. Sedangkan para tetangga tidak akan dapat mendengarkannya. Karena itu, menurut dia, menggunakan kaleng sangat tidak efektif untuk memberikan peringatan dini tsunami dalam wilayah yang lebih luas.

Tiga bulan otaknya berpikir keras untuk menemukan alat efektif dan efisien untuk menjangkau masyarakat secara luas dalam hal deteksi dini tsunami. Alat temuannya kali ini sedikit modern karena disentuh oleh aliran listrik dan sirene dibantu oleh bandul timah yang cara kerjanya sama seperti lonceng.

“Satu pemberat dari timah seukuran kepalan tangan kita gantung lalu dirangkai sedemikian rupa. Apabila bandul timah itu digoyang, maka goyangan bandul timah itu akan menyentuh alat listrik yang telah kita siapkan, sehingga hasilnya seperti klakson mobil atau sirene. Semakin kencang guncangan pada bandul timah maka raungan sirene akan semakin keras,” katanya.

Namun ia mengatakan alat deteksi dini tsunami karyanya diciptakan dapat berbunyi pada guncangan keras saja atau gempa yang berpotensi tsunami.

Alat tersebut ia temukan pada 2007 berawal dari gempa besar pada 2000 yang menewaskan ratusan orang di Provinsi Bengkulu menyusul bencana tsunami di Aceh. Selanjutnya, pada 2007, pemerintah daerah membagikan alat deteksi dini tsunami dengan menggunakan perangkat genset dan sirene. Tetapi alat deteksi tersebut tidak otomatis berbunyi ketika terjadi gempa berpotensi tsunami. Sirene yang dibagikan pemerintah baru dapat berbunyi jika genset dinyalakan secara manual.

“Dari situ saya berpikir keras bagaimana menciptakan sirene otomatis, kalau terjadi gempa bumi yang berpotensi besar, tidak usah repot-repot kita harus menghidupkan genset,” katanya.

PHESI ESTER JULIKAWATI