Gambar x-ray menunjukan beberapa alat dipasang untuk menangkap gelombang otak yang kemudian diterjemahkan menjadi suara. guardian.co.uk/Ned Sahin
Alat Pembaca Pikiran Disiapkan
TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah alat pembaca pikiran akhirnya bisa segera diciptakan setelah para ilmuwan mengetahui apa yang didengarkan orang lain dengan cara menerjemahkan gelombang listrik dalam otak mereka.
Para peneliti menunjukkan otak manusia mampu memecah kata-kata menjadi pola-pola aktivitas listrik kompleks. Aktivitas tersebut dapat dipecah dan diterjemahkan kembali mendekati versi perkiraan suara asli yang ditangkap otak.
Mereka berharap terobosan ini dikembangkan untuk menafsirkan percakapan yang dibayangkan pasien yang tidak bisa bicara karena otak diyakini mampu memproses pikiran dengan cara serupa seperti memproses suara.
Namun para peneliti tampaknya belum bisa buru-buru. Mereka terlebih dulu harus menciptakan teknologi yang jauh lebih akurat dan menemukan cara untuk mengetahui suara yang dipikirkan pasien daripada yang didengarkan.
Selain itu dibutuhkan elektroda khusus yang ditanam di dalam otak di bawah tengkorak pasien. Sebab, selama ini belum ada sensor yang bisa mendeteksi pola-pola kecil aktivitas listrik non-invasif pada otak manusia.
Tapi setidaknya konsep penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Public Library of Sciences Biology ini dapat memberikan harapan kepada ribuan pasien kerusakan otak yang menderita setiap hari karena tidak mampu berkomunikasi dengan orang-orang yang mereka cintai.
Profesor Robert Knight, salah seorang peneliti dari University of California di Berkeley, Amerika Serikat, mengatakan temuan ini merupakan hal besar, terutama bagi pasien yang tidak dapat berbicara karena mengalami kerusakan pada mekanisme pembicaraan akibat stroke atau penyakit Lou Gehrig.
"Jika Anda bisa merekonstruksi percakapan yang dibayangkan dari aktivitas otak, ribuan orang bisa memperoleh manfaat," kata dia.
Tim ilmuwan meneliti 15 pasien epilepsi yang tengah menjalani pembedahan eksplorasi untuk menemukan penyebab kejang. Tim memasang serangkaian elektroda yang terhubung ke otak pasien melalui lubang di tengkorak.
Begitu rangkaian elektroda itu terpasang, tim ilmuwan memantau aktivitas di lobus temporal--area pengolahan kata-kata pada otak--,sementara pasien mendengarkan percakapan selama 5-10 menit.
Dengan menguraikan percakapan menjadi komponen suara, para peneliti mampu membuat dua model komputer yang mampu mencocokkan sinyal berbeda di otak menjadi suara individu. Mereka menguji kedua model dengan menyetel rekaman sebuah kata tunggal kepada pasien dan memperkirakan dari aktivitas otak bagian mana kata yang didengar pasien tersebut.
Program yang lebih baik mampu menghasilkan perkiraan terdekat dari kata yang ditebak para ilmuwan hingga 90 persen. Mereka mengatakan program masih bisa dibuat lebih akurat dengan mempelajari sinyal otak pasien selama percakapan panjang atau memeriksa bagian-bagian lain dari otak yang terlibat dalam pengolahan kata-kata.
Pemimpin penelitian, Brian Pasley, membandingkan metode untuk seorang pianis yang melihat sebuah piano yang dimainkan di ruang kedap suara. Pianis itu mampu "mendengar" musik hanya dengan mengamati gerakan tuts piano.
Pasley mengatakan anggapan bahwa alat pembaca pikiran ini benar-benar mampu membaca pikiran seseorang merupakan sesuatu yang sesat. Dia beralasan, teknik yang digunakan dalam alat ini sangat bergantung kesadaran pasien "mendengarkan" kata dalam pikiran mereka.
"Ini hanya untuk memahami bagaimana otak mengubah suara menjadi makna dan itu adalah proses yang sangat rumit. Aplikasi klinis akan berjalan jika kita bisa mengetahui lebih lanjut tentang proses-proses imajiner seseorang," ujar dia.
Jan Schnupp, profesor ilmu saraf di Universitas Oxford, Inggris, menggambarkan penelitian ini sebagai hal luar biasa. "Ilmuwan saraf telah lama percaya bahwa otak pada dasarnya bekerja dengan cara menerjemahkan aspek-aspek dari luar, seperti kata yang diucapkan, menjadi pola-pola aktivitas listrik," kata dia.
Dia mengatakan, membuktikan bahwa aktivitas listrik di otak dapat diterjemahkan kembali menjadi suara merupakan sebuah langkah besar dalam ilmu pengetahuan. "Dan itu membuka jalan untuk kemajuan pesat di bidang aplikasi biomedis," ujarnya.
TELEGRAPH | MAHARDIKA SATRIA HADI





