Sejumlah penumpang kereta listrik memadati atap gerbong tujuan Bogor-Jakarta saat kereta yang ditumpangi melintas di kawasan Kalibata, Jakarta (12/13). Sistem Lub Line belum efektif memberikan kenyamanan pengguna kereta api. TEMPO/Subekti
Infografis
YLKI Menyarankan PT KAI Kerja Sama dengan Bank
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Sudaryatmo, memandang PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebaiknya melakukan kerja sama dengan bank. "Lebih baik bank yang menerbitkan commuter electronic ticket atau Commet itu," kata Sudaryatmo ketika dihubungi Tempo hari Kamis, 2 Februari 2012. Ia yakin pihak bank tidak menolak bekerja sama dengan PT KAI dalam hal itu.
Dengan transaksi PT KAI yang nilainya mencapai miliaran rupiah, Sudaryatmo menilai bank akan tertarik menerbitkan kartu elektronik bagi para pengguna kereta rel listrik (KRL) itu. Dengan sistem elektronik yang mulai diterapkan, PT KAI, menurut Sudaryatmo, sebaiknya terhubung dengan perbankan. Jadi masyarakat mudah melakukan isi ulang saldo dari Commet yang mereka miliki.
Mengenai harga Commet sebesar Rp 50.000, termasuk saldo Rp 30.000 di dalamnya, Sudaryatmo mengatakan kerja sama PT KAI dengan perbankan nantinya bisa menjadi pilihan yang baik. "Jadi masyarakat bisa mendapatkan kartu secara gratis," katanya. Selanjutnya masyarakat tinggal mengisi saldo Commet sesuai dengan kebutuhan. Pengisian pun bisa dilakukan dengan melakukan pembayaran kepada bank melalui ATM, misalnya.
Lebih lanjut Sudaryatmo menilai penggunaan Commet ini nantinya mampu mengubah perilaku masyarakat sehari-hari. Meski demikian masyarakat dinilainya memerlukan waktu transisi untuk bisa memanfaatkan Commet. Karcis yang semula ada, menurut Sudaryatmo, tetap harus disediakan oleh PT KAI untuk mengakomodasi penumpang nonreguler.
Selanjutnya, apabila mayoritas calon penumpang sudah memiliki Commet, Sudaryatmo memandang PT KAI bisa menghapuskan penjualan karcis reguler secara bertahap. Namun, menurut Sudaryatmo, PT KAI harus memastikan kesiapan infrastruktur di setiap stasiun.
MARIA YUNIAR





