foto

Fauzi Bowo. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

Survei: Foke Masih Nomor Satu  

TEMPO.CO, Jakarta - Hasil survei yang digelar Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) menunjukkan tingkat popularitas Fauzi Bowo sebagai calon incumbent untuk Gubernur DKI Jakarta masih di urutan teratas.

“Incumbent masih nomor satu,” kata Direktur Eksekutif Puskaptis, Husin Yazid, dalam jumpa pers di kawasan Kebon Sirih, Jakarta, Kamis 2 Februari 2012.

Survei yang melibatkan 1.250 responden selama 26 Desember 2011–15 Januari 2012 ini memasukkan 15 nama bakal calon gubernur/wakil gubernur DKI Jakarta yang beredar di masyarakat. “Kami sudah konfirmasi dengan semua nama bakal calon yang disurvei. Mereka ngasih penjaminan untuk maju atau setidaknya telah memiliki tim sukses,” katanya

Sebanyak 15 nama bakal calon yang sudah dikonfirmasi itu kemudian dibagi dalam daftar calon gubernur dan calon wakil gubernur. Di daftar nama bakal calon gubernur ada nama Hendardji Supandji, Fauzi Bowo, Nachrowi Ramli, Fadel Muhammad, Nono Sampono, Faisal Basri, dan Prijanto.

Sementara di daftar nama bakal calon wakil gubernur ada nama Triwisaksana, Lulung Lunggana, Tantowi Yahya, Wanda Hamidah, Prya Ramadhani, Selamet Nurdin, Biem Benjamin, dan Boy Sadikin. Pembagian daftar itu dilakukan tim survei dengan pertimbangan tertentu.

Dia mencontohkan Golkar yang hanya memiliki 7 kursi di DPRD, diprediksi hanya mampu mengajukan calon wakil gubernur. Karena itu nama Prya Ramadhani dan Tantowi Yahya dimasukkan dalam daftar nama bakal calon wakil gubernur. Sedangkan Fadel Muhammad yang juga kader Golkar masuk ke daftar calon gubernur karena pernah menduduki posisi menteri.

Kader dari PKS, Triwisaksana, yang akan diusung jadi bakal calon gubernur dimasukkan dalam daftar calon wakil gubernur karena belum ada kepastian dari PKS hingga survei digelar.

Hasil survei terhadap daftar bakal calon gubernur, nama Fauzi Bowo masih di posisi teratas dengan popularitas 93,14 persen dan tingkat kesukaan warga 51,54 persen. Di posisi kedua ada Fadel Muhammad dengan tingkat popularitas 61,31 persen dan tingkat kesukaan warga 33,38 persen.

“Nama Fadel boleh jadi baru di bursa balon gubernur, tapi Fadel sudah jadi tokoh nasional. Gubernur Gorontalo yang selama 1 tahun jadi menteri, popularitasnya terdongkrak dengan cepat, terlepas dari dia memenuhi persyaratan atau tidak,” katanya.

Di posisi ketiga ada Prijanto dengan tingkat popularitas 57,9 persen dan tingkat kesukaan warga 35,52 persen. Setelah itu ada Faisal Basri, Hendardji Soepandji, Nachrowi Ramli dan Nono Sampono di posisi akhir.

Sedangkan dalam daftar bakal calon wakil gubernur, popularitas Tantowi Yahya ada di posisi teratas dengan 67,38 persen dan tingkat kesukaan 38,97 persen. Diikuti Triwisaksana 36,93 persen, Lulung Lunggana 35,60 persen, dan Wanda Hamidah 26,07 persen. Boy Sadikin, Prya Ramadhani, Selamat Nurdin, dan Biem Benjamin mengikuti dari belakang dalam angka yang kecil.

Husin menyimpulkan popularitas figur incumbent masih cukup tinggi. “Kalau lihat waktunya yang tinggal 5 bulan, sulit mengejar incumbent. Kandidat harus ekstrem menggunakan pencitraan atau strategi lain,” katanya.

Bila hingga akhir bulan popularitas bakal calon belum mencapai 60 persen, kata dia, potensi menang semakin kecil. “Partai tidak akan mengusung bila popularitas belum 60 persen,” katanya.

Menurut Husin, ada lima faktor penentu popularitas seorang bakal calon. “Pertama dari figur itu sendiri, bagaimana pengalaman, integritas dan kesukaan warga terhadap dia, “ katanya. Kedua, kata dia, kesolidan tim sukses.

Yang tak kalah penting adalah mesin partai dan jaringan. “Ini dapat mempengaruhi mobilisasi,” katanya. Terakhir, ketersediaan logistik.

Untuk meningkatkan popularitas secara instan, kata dia, kandidat harus rela membuang anggaran sebesar Rp 75-100 miliar per bulan hingga pemilihan digelar. Anggaran itu digunakan untuk mempopulerkan nama bakal calon di media. “Televisi adalah media yang paling berpengaruh,” katanya.

AMANDRA MUSTIKA MEGARANI