AP/Lee Jin-man
Topik
Film Korban Tsunami Diputar di Amerika Serikat
TEMPO.CO, Sebuah film dokumenter tentang gempa dan tsunami dahsyat Jepang bakal diputar di Amerika Serikat musim semi mendatang. Film ini menceritakan tentang bagaimana korban tsunami berjuang untuk hidup.
Film dokumenter ini disutradarai oleh Yuka Kanno, 21 tahun, mahasiswa tingkat tiga pada Yamanashi Prefectural University. Yuka membuat film dokumentar tentang kampung halamannya di Kota Rikuzen-Takata, di Prefecture Iwate yang hancur diamuk tsunami tahun lalu.
Pemutaran film ini dirancang oleh Kazumi Hatasa, 55 tahun, profesor yang bekerja di Amerika Serikat. Hatasa mengatakan film dokumenter ini akan digelar di beberapa tempat yang memungkinkan. “Agar Amerika juga tidak melupakan bencana ini,” ujarnya.
Kanno mewawancarai sembilan korban selamat dari amukan gempa dan tsunami. Salah satunya adalah teman sekolahnya dan ibunya yang bernama Yoshie. Film dokumenter ini berjudul Kyo wo Mamoru (Perlindungan Hari ini). Film ini merefleksikan perasaan pada pekerjaannya ini. “Saya ingin menangkap momentum di kampung halamanku ketika berjuang keras untuk melindungi kehidupan sehari-hari mereka,” ujarnya.
Rumahnya sendiri hancur. Dia mewawancarai para korban selamat saat tinggal di tempat penampungan. Di film ini ada pula adegan ketika ibu temannya mengungkapkan situasi kesehariannya. “Pengalaman yang sangat beragam di penampungan bersama yang selamat dan rasa persatuan telah hilang,” ujar Yoshie.
Film dokumenter ini pertama kali diputar di festival film di Kofu, November lalu. Setelah itu diputar di enam lokasi di seluruh perfektur Yamanashi dan Tokyo. Hatasa yang juga instruktur bahasa Jepang di Purdue University ini melihat film buatan Kanno ini saat menonton sebuah program televisi di rumahnya.
Setelah itu dia memutuskan untuk mengalihbahasakan film ini untuk diputar di seluruh Amerika Serikat. “Saya pikir Amerika harus tahu tentang kerusakan gempuran tsunami dan orang yang bertahan setelah bencana,” ujarnya.
Kanno tak menduga filmnya akan mendapat respons yang luar biasa. Dia berharap filmnya ini bisa merasakan dan berbagi simpati kepada korban bencana. “Saya bersyukur orang lain yang tidak mempunyai ikatan daerah bencana merasa tragedi ini tidak boleh dilupakan,” ujarnya.
ASIAONE/DIAN YULIASTUTI





