Mainan Tradisional Semakin Tersingkir dalam Sekaten   | Travel | Tempo.co
TEMPO Travel
24 - 26 Mei 2012
Festival Musik Lintas Genre di Rumah Tembi
Festival digelar untuk pendokumentasian seri musik tradisi baru dalam bentuk album.

14 - 19 Mei 2012
Festival Teluk Jailolo 2012
Festival tahunan yang digelar di Teluk Jailolo Halmahera. Diisi mulai dari fun diving, parade rempah, hingga bakar ikan.

Sains yang memberi kontribusi besar bagi kehidupan manusia zaman sekarang bukanlah ilmu pengetahuan yang langsung ada seperti saat ini. Sains tumbuh bersama perkembangan kebudayaan manusia. Sains berkembang berkat kerja keras para raksasa yang terus menga

Mainan Tradisional Semakin Tersingkir dalam Sekaten  

Kamis, 02 Februari 2012 | 14:57 WIB

Mainan Dakon atau Congklak. TEMPO/Heru CN

TEMPO.CO, Surakarta - Kapal otok, begitu orang menyebutnya. Mainan miniatur kapal itu bisa berjalan jika sumbu di dalamnya dinyalakan dengan api. “Otok…otok..otok..,” demikian suaranya sehingga orang menyebutnya kapal otok. Suara itu berasal dari air yang mendidih lantaran dipanasi oleh sumbu yang menyala.

Beberapa tahun lalu, banyak pedagang kapal otok yang menyerbu ajang Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta, Jawa Tengah. Kala itu mainan tersebut sangat laris. Namun, dalam ajang Sekaten tahun ini hanya segelintir pedagang yang mencoba bertahan untuk berjualan kapal otok lantaran sudah kurang diminati.

Pedagang kapal otok itu memilih berjualan di tempat yang paling strategis. Mereka berjualan di pintu masuk alun-alun. Mereka mencoba menggaet pengunjung yang baru datang. “Kalau terlanjur masuk, pengunjung pasti lebih suka membeli mainan modern yang banyak dijual di dalam,” kata Andriyanto, salah satu pedagang.

Pedagang gasingan juga merasakan hal yang sama. Mainan dari bambu itu sebenarnya tidak mahal, berkisar Rp 7 ribu hingga Rp 10 ribu per buah, tergantung ukuran. Toh, dengan harga murah pun pedagang merasa kesulitan untuk menjual dagangannya.

Padahal, mainan ini mengasyikkan. Cukup menarik tali yang dililitkan di ujungnya, gasingan dari bambu itu bisa berputar kencang. Lubang yang berada di tengah mainan ini menghasilkan bunyi dengungan yang cukup nyaring.

Perajin membutuhkan bambu khusus untuk membuat gasingan itu. Mereka menggunakan bambu tutul yang memiliki kulit sangat tipis. “Bambu ini hanya tumbuh di daerah Muntilan, Magelang,” kata Saiman, salah satu pedagang yang berasal dari Magelang.

Sekitar lima tahun lalu, Saiman masih berani membawa 1.500 gasingan dalam ajang Sekaten. Dagangannya selalu habis sebelum ajang Sekaten usai. Namun kali ini, dia hanya berani membawa 500 gasingan. “Takut tidak laku,” kata pria yang sudah belasan tahun berjualan gasingan di ajang Sekaten tersebut.

Selain takut tidak laku, mencari perajin gasingan saat ini sudah susah. “Sudah tidak banyak perajin gasingan di Muntilan,” kata Saiman. Tumbuhan bambu tutul yang menjadi bahan bakunya saat ini cukup langka lantaran rusak terkena lahar dingin.

Baik Andriyanto maupun Saiman menilai jika omset penjualan mereka turun karena kehadiran mainan modern yang harganya murah. Apalagi, dalam ajang sekaten tersebut, banyak mainan asal Cina yang harganya justru lebih murah dibanding gasingan maupun kapal otok. “Zaman memang sudah berubah,” kata Saiman pasrah.

AHMAD RAFIQ