foto

Petugas Perusahaan Listrik Negara (PLN) saat memperbaiki jaringan di Gardu Induk Gambir Baru, Jl. Yos Sudarso, Jakarta, Rabu (11/1). PT. PLN (Persero) sudah mempersiapkan material dan SDM yang sudah terlatih untuk antisipasi penanganan banjir di 13 Gardu Induk rawan banjir. TEMPO/Dasril Roszandi

Hasil Kajian, Pelanggan Mampu Bayar Listrik Mahal  

TEMPO.CO, Jakarta -Anggota Dewan Energi Nasional yang sekaligus menjadi anggota tim pengkaji kenaikan tarif dasar listrik, Tumiran, memaparkan hasil kajian membuktikan bahwa masyarakat Indonesia mampu membayar listrik lebih dari tarif yang ditetapkan selama ini.

"Pada dasarnya masih mampu untuk membayar lebih," kata dia ketika dihubungi Tempo, Jumat 3 Februari 2012. Pelanggan listrik terbesar adalah sektor rumah tangga mulai dari 450 watt hingga 5.500 watt. Totalnya mencapai 36 juta dari 45 juta pelanggan listrik PLN.

Dia menjabarkan, untuk pelanggan 450 watt  misalnya tarif yang dikenakan adalah sebesar Rp 408 per Kwh, dengan kenaikan 10 persen maka tarif baru yang dikenakan adalah Rp 450 per Kwh.

Kajian konsorsium universitas yang ditunjuk pemerintah juga menghitung tarif listrik dibandingkan dengan pendapatan rata-rata keluarga. Pelanggan 450 watt memiliki pendapatan rata-rata Rp 741 ribu setiap bulan, dari pendapatan tersebut total pengeluaran untuk listrik adalah sebesar 5,36 persen.

Jika listrik dimasukkan ke dalam komponen pengeluaran primer, maka pelanggan 450 watt sebenarnya mampu membayar listrik sebesar Rp 720 per Kwh. Tetapi, tim pengkaji tidak memasukkan listrik sebagai komponen pengeluaran primer.



 



Sedangkan  pelanggan 900 watt dengan pendapatan rata-rata Rp 1.440.000 per bulan, pengeluaran listriknya hanya 4,11 persen. "Dan kemampuan bayar seharusnya Rp 923 per kWh," tutur  Tumiran.

Dia menyarankan agar pemerintah segera menentukan langkah kenaikan tarif ini, terutama untuk pelanggan di atas 900 watt yang jelas pendapatannya lebih tinggi namun masih membayar murah.

Kenaikan untuk industri menengah dan besar, masih dalam tahap kajian. Pasalnya terdapat beberapa golongan pemakai listrik dalam industri. Tumiran juga menyarankan PLN agar cepat mendapatkan pasokan pengganti bahan bakar minyak, seperti gas dan energi baru lainnya.



 



Hal tersebut agar PLN dapat menurunkan biaya pokok produksinya."Sehingga subsidinya juga tidak berat, jadi jangan hanya dilimpahkan kepada masyarakat bebannya. PLN juga harus mencari bahan bakar yang lebih murah biar adil,"  ucap dia.

GUSTIDHA BUDIARTIE