foto

Lampu Hemat Energi/TEMPO/Ramdani

Kantor Pemerintah Masih Boros Energi

TEMPO.CO, Yogyakarta - Pola penghematan energi di perkantoran Pemerintah Kota Yogyakarta belum sepenuhnya dilaksanakan. Lampu penerangan menyala di siang hari. Dalam setahun, anggaran untuk membayar tagihan listrik mencapai Rp 2,52 miliar.

Di kantor Dinas Ketertiban, misalnya, Jumat, 3 Februari 2012 siang, lampu dibiarkan menyala. Padahal, untuk mengurangi gelap, nyaris semua tirai jendela kaca telah terbuka. Pemandangan serupa terlihat di gedung Dinas Kesehatan, lobi kantor Bagian Perekonomian Pengembangan Pendapatan Asli Daerah dan Kerja Sama, yang langsung berhubungan dengan teras terbuka. Di beranda gedung kantor Wali Kota dan Wakil Wali Kota pun lampunya menyala.

Kepala Dinas Bangunan, Gedung, dan Aset Daerah, Hari Setyowacono, mengatakan anggaran untuk membayar tagihan listrik gedung pemerintah Kota Yogyakarta mencapai Rp 2,52 miliar. Anggaran itu tercatat dalam pos anggaran kegiatan penyediaan komponen instalasi listrik dan penerangan kantor untuk belanja listrik selama setahun pada 2012 ini. “Tiap bulannya fluktuatif. Kalau ada sisa, dikembalikan (ke kas daerah),” kata dia.

Yang jelas, jika dirata-rata tiap bulan, Dinas Bangunan membayar tagihan listrik sebesar Rp 195 juta untuk tagihan listrik gedung pemerintah. Tagihan Januari, misalnya, sebanyak Rp 196 juta.

Menurut dia, tagihan listrik meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2011, rata-rata tagihan listrik Rp 154 juta per bulan. Satu di antara penyebabnya, beberapa gedung menambah daya tegangan listrik. Selain itu, sejumlah gedung memiliki desain tertutup. Jadi, di siang hari, sinar matahari tak mampu masuk. Untuk melawan pengap dan sumuk, ruangan dipasangi AC secukupnya.

Arsitek Eko Prawoto mengatakan bentuk gedung “gemuk” cenderung menghambat masuknya sinar ke dalam ruangan. Berbeda dengan gedung “pipih”. Dengan ventilasi cukup, “Secara teori, cahaya bisa masuk (dengan jarak) 5-6 meter,” katanya.

Dia mengatakan konsep gedung yang hemat energi adalah sebuah “ideologi”. Bisa jadi, saat merancang dulu, bangunan itu lebih menonjolkan sisi simbol dan pencitraan sebagai gedung pemerintahan, sehingga aspek rancangan gedung hemat energi tak terlalu menonjol.

Penggunaan lampu hemat energi dan pendingin ruangan secukupnya, menurut dia, memang bisa mengurangi pemborosan energi. Namun, dia mengingatkan, penghematan energi juga harus didukung kesadaran penghuni gedung.

ANANG ZAKARIA